METODE PENETAPAN AWAL BULAN RAMADHAN SESUAI SUNNAH

Awal bulan Ramadhan ditentukan dengan dua cara:

Pertama, terlihatnya hilal bulan Ramadhan. Walaupun yang melihatnya hanya satu orang yang adil. Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar, dia berkata: “Orang-orang sedang mengamati hilal. Aku mengabari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku melihatnya. Beliau kemudian berpuasa dan menyuruh orang-orang agar ikut berpuasa bersama beliau.” (HR. Abu Dawud no. 2342, Ibnu Hibban no. 3447, Hakim 1/423. Hadits ini shahih, lihat al-Irwa’ no. 908 karya al-Albani. Lihat “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan” penerbit Pustaka al-Furqon).

Kedua, jika hilal tidak terlihat karena suatu sebab -misalnya mendung- maka bulan sya’ban digenapkan 30 hari. Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berhari rayalah karena melihat hilal. Jika awal bulan samar bagi kalian maka genapkanlah bulan sya’ban hingga tiga puluh hari.” (HR. Bukhari no. 1909, Muslim no. 1081. Lihat “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan”).

Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa metode dalam penentuan awal puasa Ramadhan adalah dengan terlihatnya hilal. Jika hilal tidak terlihat, maka dengan menyempurnakan bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari. Inilah cara mudah dalam penentuan awal bulan Ramadhan yang selayaknya diamalkan oleh seluruh kaum muslimin.

Barang siapa yang menyangka bahwa dia mengetahui masuknya awal bulan Ramadhan dengan cara selain yang telah ditetapkan oleh agama, maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Contohnya adalah orang yang mengatakan wajibnya mengikuti metode hisab dalam penentuan awal bulan Ramadhan, atau wajib berpegang dengan kalender. Metode hisab ini tidak bisa diketahui oleh setiap orang, apalagi metode hisab mengandung kemungkinan salah. Cara dan metode semacam ini memberatkan umat padahal Allah berfirman: “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj [22]: 78).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menyampaikan kesepakatan para sahabat bahwa metode hisab tidak bisa dijadikan sandaran dalam penentuan bulan Ramadhan dan keluarnya. (Majmu’ Fatawa 25/207. Lihat Fathul Bari 4/127. Lihat “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan”).

Maka, yang wajib bagi seluruh kaum muslimin adalah mencukupkan diri dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Marilah kita tinggalkan segala fanatisme golongan karena itu semua hanya akan menjauhkan kita dari menerima kebenaran. Marilah kita munculkan dalam hati kita rasa ingin mencari kebenaran meskipun hal itu harus bertentangan dengan sesuatu yang selama ini kita yakini.

(Rujukan: Tulisan ini banyak mengambil manfaat dari buku “Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut al-Qur’an dan Sunnah”, penulis: Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman & Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, penerbit: Pustaka al-Furqon).

Disusun oleh Abu Aslam Benny bin Syahmir bin Marbawi

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Follow: Page Muslim Sumbar

About these ads

Posted on Juli 27, 2011, in FIQIH, puasa, ramadhan and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Makash penjelasannya

  2. ok betul sekali aku setuju…… biar umat Islam diseluruh Indonesia tidak terpecah-pecah karena ada golongan tertentu yang selalu bersebarangan dengan pemerintah patuhilah Allah, Rasul dan Ulil Amri kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: