HUKUM MEMAKAN BINATANG YANG HIDUP DI DUA ALAM

pantai

Ada sebuah pertanyaan yang sering muncul sebagai berikut, “Adakah ayat al-Qur’an atau hadits shahih yang menyatakan bahwa binatang yang hidup di dua alam hukumnya haram untuk dimakan, seperti kepiting, kura-kura, anjing laut, dan kodok?”

Jawaban secara global: Perlu kita ingat lagi kaidah penting tentang makanan, yaitu asal segala jenis makanan adalah halal kecuali apabila ada dalil yang mengharamkannya. Dan sepanjang pengetahuan kami tidak ada dalil dari al-Qur’an dan hadits shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian maka asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Adapun jawaban secara terperinci: kepiting hukumnya halal, sebagaimana pendapat Atha’ dan Imam Ahmad. (Al-Mughni Ibnu Qudamah 13/344, al-Muhalla Ibnu Hazm 6/84).

Kura-kura atau penyu juga halal sebagaimana madzhab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan al-Bashri, dan Fuqaha’ Madinah. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 5/146, al-Muhalla Ibnu Hazm 6/84).

Anjing laut juga halal sebagaimana pendapat Imam Malik, Syafi’i, Laits, Sya’bi, dan al-Auza’i. (Al-Mughni 13/246).

Adapun kodok atau katak, maka hukumnya HARAM secara mutlak menurut pendapat yang kuat karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh.1

Imam Syafi’i dan para sahabatnya mengatakan, “Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya. (Lihat al-Majmu’ [9/23] oleh an-Nawawi).

Dari Abdurrahman bin Utsman al-Qurasyi, bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok atau katak dijadikan obat, kemudian Rasulullah melarang membunuhnya. (HR. Ahmad [3/453], Abu Dawud: 5269, dan dishahihkan Ibnu Hajar dan al-Albani).

Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lain, serta pendapat yang shahih dari madzhab Syafi’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar ash-Shidiq, Umar, Utsman, dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal, kecuali katak. (Lihat al-Majmu’ an-Nawawi [9/35] dan Taudhihul Ahkam [6/26] oleh al-Bassam).2

Faedah:

  1. Pengharaman suatu jenis makanan harus berlandaskan kepada dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak boleh seseorang mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, maupun sebaliknya tidak boleh seseorang menghalalkan apa yang telah Allah haramkan.
  2. Pengharaman katak atau kodok berdasarkan kepada hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Penulis: Abu Aslam bin Syahmir

Keterangan:

  1. Lihat buku “Indahnya Fiqih Praktis Makanan”, tulisan Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi dan Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa, halaman 34-35.
  2. Lihat buku “Indahnya Fiqih Praktis Makanan”, tulisan Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi dan Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa, halaman 33.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Artikel lainnya:

Meminta Pertolongan Kepada Mayat?

Larangan Mencela Sahabat Rasulullah

Sabda Rasulullah Tentang Pemerintahan Yang Bodoh

Di mana Allah?

Kode Banner

About these ads

Posted on Desember 1, 2011, in FIQIH and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. wallahu`alam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: