MENGAPA CARI ILMU KE NEGERI CINA?

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Shalawat dan Salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wa Sallam.

Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang “hadits”: “Carilah ilmu sekalipun di negeri cina”. Atau “hadits”: “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Atau “hadits”: “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina” Atau “hadits”: Uthlubul ‘ilma wa lau bish shin”.

” اطلبوا العلم و لو بالصين “

Latar belakang kami membahas “hadits” ini adalah karena telah tersebarnya hadits ini di kalangan kaum muslimin.

Juga pada suatu kesempatan, salah seorang dosen menyampaikan “hadits” ini dalam nasehatnya kepada mahasiswa yang berada di ruang kuliah.

Kami katakan bahwa nasehat yang diberikannya adalah nasehat yang bermanfaat bagi mahasiswa, yaitu motivasi agar sungguh-sungguh dalam belajar. Juga nasehat agar berbakti kepada orang tua.

Semoga Allah membalas kebaikannya, karena telah memberikan nasehat yang berharga kepada mahasiswanya, dan juga mengampuni kesalahannya yang nampak dan tersembunyi. Dan semoga Allah memberikan kepahaman agama kepadanya sehingga menjadikannya berada di atas kebenaran.

Akan tetapi, kami ingin mengomentari “hadits” yang disampaikan dalam sela-sela nasehatnya.

Dalam pembahasan ini, kami akan merujuk kepada dua buku, yaitu buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah dan buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia” karya Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif1.

Di dalam kedua buku tersebut dikatakan bahwa derajat “hadits” di atas adalah Bathil2.

قال الألباني في سلسلة الأحاديث الضعيفة ( 1 / 600 ) :

باطل .

Syaikh al-Albani berkata dalam “Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah”: Bathil3.

Secara umum kita katakan bahwa “hadits” di atas TIDAK TERMASUK ke dalam hadits Shahih. Oleh sebab itu TIDAK BOLEH kita mengatakan bahwa “hadits” di atas adalah perkataan Rasulullah, TIDAK BOLEH kita menyandarkan “hadits” ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

“Hadits” di atas diriwayatkan oleh Ibnu Adi (2/207), Abu Nu’aim dalam “Akhbar Ashbahan” (2/106), al-Baihaqi dalam “al-Madkhal” (241/324), Ibnu Abdil Bar dalam “Jami’ Bayanil Ilmi” (1/7-8), dari jalan Hasan bin Athiyyah berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abu Atikah Tharif bin Sulaiman dari Anas secara marfu’4.

Sisi cacatnya adalah Abu Atikah Tharif bin Sulaiman. Dia telah disepakati kelemahannya.

Imam Bukhari berkata, “Munkarul hadits”.

An-Nasa’i berkata, “Tidak Tsiqah”.

Al-Uqaili berkata, “Haditsnya ditinggalkan”5.

Al-Marwazi menceritakan, “’Hadits’ ini pernah disebut di sisi Imam Ahmad bin Hanbal, maka beliau mengingkarinya dengan keras”6.

Ibnu Hibban berkata, “Hadits bathil, tidak ada asalnya”7.

Kesimpulannya, hadits ini adalah hadits bathil, tidak ada asalnya, dan tidak ada jalan lain yang menguatkannya8.

Faedah:

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz berkata setelah menjelaskan lemahnya hadits ini, “Seandainya hadits ini shahih, maka tidaklah menunjukkan tentang keutamaan negeri Cina dan penduduknya, karena maksud hadits ini –kalaulah memang shahih- adalah anjuran untuk menuntut ilmu sekalipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, sebab menuntut ilmu merupakan perkara yang sangat penting sekali, karena ilmu merupakan sebab kebaikan dunia dan akhirat bagi orang yang mengamalkannya. Jadi, bukanlah maksud hadits ini adalah negeri Cina itu sendiri, tetapi karena Cina adalah negeri yang jauh dari tanah Arab, maka Nabi menjadikannya sebagai permisalan. Hal ini sangat jelas sekali bagi orang yang mau memperhatikan hadits ini9.

Penyusun: Abu Aslam Benny bin Syahmir bin Marbawi

Keterangan:

1. Kedua penulis adalah pengajar di Ma’had (pondok pesantren) al-Furqon al-Islami di Gresik, Jawa Timur.

2. Silahkan lihat buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah halaman 53. Dan buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia” karya Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif halaman 54.

3. Lihat al-Maktabah asy-Syamilah bagian kitab Syaikh al-Albani, bagian “as-Silsilah adh-Dha’ifah no. 416.

4. Silahkan lihat buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah halaman 53. Dan buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia” karya Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif halaman 54. Lihat juga al-Maktabah asy-Syamilah bagian kitab Syaikh al-Albani, bagian “as-Silsilah adh-Dha’ifah no. 416.

5. Lihat buku “Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia” karya Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif halaman 55. Lihat juga al-Maktabah asy-Syamilah bagian kitab Syaikh al-Albani, bagian “as-Silsilah adh-Dha’ifah no. 416.

6. Silahkan lihat buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah halaman 53. Lihat juga al-Maktabah asy-Syamilah bagian kitab Syaikh al-Albani, bagian “as-Silsilah adh-Dha’ifah no. 416.

7. Silahkan lihat buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah halaman 53. Lihat juga al-Maktabah asy-Syamilah bagian kitab Syaikh al-Albani, bagian “as-Silsilah adh-Dha’ifah no. 416.

8. Silahkan lihat buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah halaman 53.

9. Silahkan lihat buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah halaman 54.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Follow: Page Muslim Sumbar

 

 

 

About these ads

Posted on Februari 26, 2012, in hadits tidak shahih and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. barakallahu fiik ya akhil karim….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: