SALAFIYAH DI INDONESIA

Paham salafiyah di Indonesia –terutama dalam hal memberantas kemusrikan, bid’ah, takhayul, dan khurafat- tampaknya dulu (mulai 1912) menonjol di Muhammadiyah, al-Irsyad, dan Persis (Persatuan Islam). Namun akhir-akhir ini tampak agak surut karena organisasi-organisasi Islam tersebut mengembangkan diri dengan badan-badan otonominya –di bawah organisasi- yang masing-masing mengembangkan usahanya. Misalnya, pendidikan, kesehatan, dan sosial. Hal tersebut di Muhammadiyah dikenal dengan istilah badan amal usaha.

Di samping itu, generasi penerus organisasi-organisasi itu kebanyakan tidak belajar agama Islam secara intensif. Bahkan, mereka yang belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam, kemudian tidak sedikit yang “lari” ke filsafat atau mempelajari kajian-kajian Islam produk orientalis. Bahkan diprogramkan oleh pemerintah untuk langsung jadi asuhan para orientalis di Amerika dan Eropa dengan belajar Islam ke Barat.

Muhammadiyah yang semula sebagai organisasi yang memberantas TBC (takhayul, bid’ah, dan churafat –ejaan lama dari kata khurafat-), di tahun 2000-an sudah menjadi sarang tokoh-tokoh liberal. Tokoh liberal menyamakan Islam dengan agama-agama kekafiran (dengan istilah teologi pluralism agama)1. Mereka ramai-ramai menolak syariat Islam untuk ditegakkan. Sebaliknya, mereka secara aklamasi dalam sidang tanwirnya di Surabaya –sebelum tahun 2000- mengusulkan Konghuchu (kepercayaan musyrik dari Cina) diresmikan jadi agama.

Bahkan, mantan ketua Muhammadiyah yang bernama Amien Rais terang-terangan menghadiri perayaan natal di gereja sentrum Tondano, ibukota kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Selasa 19  Desember 2000. Jangan ditanya lagi organisasi NU (Nahdlatul Ulama) yang mempertahankan bid’ah yang diberantas oleh ketiga organisasi itu. Di zaman penjajahan sampai pukul-pukulan dengan orang Persis, di Babat (Jawa Timur) dan Cirebon (Jawa Barat).

NU memiliki badan fatwa yang bernama Lembaga Bahtsul Masa’il. Salah seorang anggotanya bernama Masdar Farid Mas’udi. Lelaki ini pada tahun 2003 mengaku bahwa dirinya ulama INUL (Ikatan NU Liberal), yang berani menyarankan agar kalau –toh terpaksa- berzina hendaknya memakai kondom.

Singkat cerita, Muhammadiyah dan NU di tahun 2000-an telah mengalami pembusukan akidah, baik secara kelembagaan maupun sebagian dari tokoh-tokohnya. Kenapa secara kelembagaan telah mengalami pembusukan akidah? Dikarenakan para tokoh yang rusak dan merusak akidah Islam itu tidak pernah dihukum secara organisatoris.

Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir.

Keterangan:

1. Padahal hanya Islam lah agama yang benar. Agama selain Islam adalah sesat dan kafir, tidak diterima di sisi Allah. Hanya Islam lah agama yang diterima di sisi Allah.

Disusun dari buku “Apa itu Salafi?” oleh Hartono Ahmad Jaiz. Silahkan lihat halaman 35-37.

About these ads

Posted on Maret 26, 2012, in MANHAJ and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Biasa ntuk mnarik masa/smpai ntuk mndpatkan jatah kursi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: