Gerakan Paderi dan Semangat Belajar Agama; Sejarah Islam Minangkabau Indonesia (Bagian 2)

rumah gadangSungguh pun gerakan Paderi yang belum berbentuk satu negara dapat ditaklukkan1, namun bibit kebangkitan Islam yang ditinggalkannya tidaklah dapat dihapuskan. Buktinya ialah, meskipun Belanda selalu membuat propaganda bahwa Perang Paderi ialah peperangan diantara kaum Agama dengan kaum Adat, dan katanya Belanda datang adalah atas permintaan kaum Adat, setelah kaum yang mereka katakan kaum Agama itu kalah, tidak ada satu nagari pun yang menerima agama Kristen, atau Belanda tidak berani memasukkan Zending Kristen ke Minangkabau, sebagai mereka lakukan di tanah Batak, tetangga dekat Minangkabau, sesudah Kerajaan Sisingamangaraja dapat mereka taklukkan.

Inilah bukti yang nyata bahwa adat Minangkabau bukanlah sesuatu yang melawan agama, sehingga timbul perang.

Jangankan satu nagari, satu perseorangan pun tidak ada yang masuk Kristen.

Bahkan kekalahan kaum Paderi menyebabkan timbulnya keinginan pada anak cucu mereka mengirim anak-anaknya belajar agama Islam yang lebih mendalam ke negeri Mekkah. Meskipun pemerintah Belanda telah mendirikan “Sekolah Raja” di Bukittinggi, namun yang dimasukkan ke sana hanya anak Raja-raja. Adapun anak-anak dan keturunan dari kaum agama, yang nenek-moyangnya terlibat langsung atau tidak langsung dengan gerakan Paderi, ke Mekkah lah mereka itu dikirim belajar oleh orang tuanya. Lebih-lebih sejak kapal layar telah maju menjadi kapal api, yang menyebabkan bertambah lancar perjalanan ke Mekkah.

Maka dapat lah kita perhatikan bahwa gerakan agama Islam di Minangkabau hanya sebentar saja kebingungan setelah kekalahan Paderi 1837-1838 itu. Periode yang setelah itu ialah periode ketekunan belajar, menyauk ilmu agama Islam ke sumbernya sendiri, yaitu negeri Mekkah.

Muncullah Syaikh Ahmad Khatib bin Abdul Lathif al-Minkabawiy, yang mengajar berpuluh murid-murid dan kemudian murid-murid itu pun pulang ke Minangkabau pada awwal abad ke-20, 100 tahun sesudah pulangnya tiga orang haji membawa faham wahabi.

Diantara murid-murid Syaikh Ahmad Khatib yang amat terkemuka ialah Syaikh Abdullah Ahmad, Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Syaikh Abdul Karim Amrullah dan Syaikh Muhammad Thaib.

Sayang yang tersebut belakang, yaitu Syaikh Muhammad Thaib Tanjung Sungayang meninggal di waktu masih muda dan dahulu dari yang bertiga. Namun beliau-beliau berempat inilah yang telah membuka fikiran-fikiran baru menurut jalan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim di Minangkabau. Haji Abdul Karim Amrullah yang mula-mula menyatakan tidak lagi mau taqlid.

Pada tahun 1906 mereka telah menyatakan bantahan keras kepada ajaran Ilmu Tasawwuf “Wihdatul Wujud” yang menyeleweng dari ajaran Tauhid.

Catatan: Dikutip dari buku “Muhammadiyah di Minangkabau” karya Dr. Hamka, halaman 7-9, bagian Pendahuluan. Dengan sedikit perubahan.

(Bersambung, Insya Allah).

Abu Aslam bin Syahmir

(Padang, 16 Jumadal Ula 1434 H / 28 Maret 2013).

Artikel Muslim Sumbar

Footnote:

  1. Silahkan baca tulisan sebelumnya, dengan judul “Dakwah Wahhabi di Ranah Minang ; Sejarah Islam Minangkabau Indonesia (Bagian 1).”

Artikel lainnya:

Buya Hamka Bercerita Tentang Wahhabi

Dakwah Wahhabi di Ranah Minang; Sejarah Islam Minangkabau Indonesia (bagian 1)

About these ads

Posted on April 9, 2013, in sejarah and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: