Adab Terhadap Syaikh, Ustadz, atau Guru

masjid imam ahmad bin hanbalDi antara adab-adab penuntut ilmu terhadap syaikh, ustadz, atau guru adalah1:

1. Menghormati dan memuliakan kedudukannya, baik ketika ada maupun ketika tidak ada.

2. Memulai mengucapkan salam, meminta izin ketika akan duduk atau pergi dari majelis ilmu karena ada keperluan.

3. Hendaklah ia duduk di majelis ilmu dengan cara duduk seorang pelajar, dengan penuh adab.

4. Berbaik sangka apabila guru memberikan hukuman kepadanya, dan hendaklah ia mengetahui bahwa hal itu untuk suatu kebaikan, bukan karena balas dendam.

5. Seorang penunutut ilmu harus sabar menghadapi gurunya yang sedang marah. Janganlah ia meninggalkan gurunya karena dengan begitu ia telah kehilangan kebaikan yang banyak berupa ilmu yang bermanfaat.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata dalam sya’irnya:

“Bersabarlah atas pahitnya perilaku kasar sang guru (ustadz),

Karena melakatnya ilmu dengan menyertainya2.

Siapa yang belum merasakan kehinaan belajar sesaat,

ia akan mereguk hinanya kebodohan sepanjang hayat.

Siapa yang tidak belajar di masa mudanya,

bertakbirlah empat kali atas kematiannya.

Hidupnya seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketaqwaan,

sebab, jika keduanya tidak ada padanya, maka tiada lagi jati dirinya3.

6. Tidak boleh sombong atau malu untuk bertanya kepada gurunya, dan hendaklah ia beradab yang baik ketika berbicara dengan gurunya.

7. Mengikuti akhlak baik, perilaku yang terpuji, dan amal shalih gurunya. Tidak ada larangan untuk manasehati guru/ustadz apabila ia melakukan kesalahan dan hendaklah dilakukan dengan penuh adab (lemah lembut) dan tidak melampaui batas.

8. Mendatangi majelis imu lebih awal daripada gurunya.

Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah mengatakan, “Hendaklah seorang penuntut ilmu datang lebih awal ke tempat belajar daripada gurunya, tidak terlambat hingga gurunya dan para jama’ah yang hadir telah duduk. Hendakalah beradab ketika menghadiri pelajaran, yaitu menghadirinya dengan penampilan yang paling baik dan bersih. Dan hendaklah ia menahan diri dari tidur, mengantuk, tertawa dan selainnya4.

9. Seorang penuntut ilmu harus berusaha memperhatikan apa yang disampaikan guru/ustadznya5, berusaha untuk memahami dan mengamalkan nasihatnya, berbuat baik kepada guru dan berusaha membalas kebaikannya. Juga jangan menyusahkan guru/ustadznya, bahkan apa yang bisa kita bantu kita wajib bantu dengan lisan, tenaga, harta, dan apa yang ada pada kita, dan kita tawarkan bantuan dengan ikhlas. Jangan membicarakan aib guru/ustadz, bahkan wajib menutup aibnya serta mendo’akan agar guru/ustadz istiqamah di jalan yang benar.

Abu Aslam bin Syahmir Marbawi

Footnote:

  1. Silahkan baca buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas halaman 152-154.
  2. Menyertai guru.
  3. Diiwan Imam asy-Syafi’I (halaman 164-165).
  4. Tadzkiratus Saami’ (halaman 300-302) secara ringkas.
  5. Hendaklah dia berpaling dari hal-hal yang mengganggunya dalam memperhatikan pelajaran, seperti, hp, kotak infak, dan lain-lain.
About these ads

Posted on Juni 4, 2013, in ADAB and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: