MENGADZANKAN BAYI, ADAKAH ?

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah atas segala nikmatnya, shalawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ketika seorang anak lahir, ada yang menyarankan agar si anak di adzankan. Namun si bapak tidak melakukannya karena tidak mendapatkan dalil yang shahih tentangnya. Amat disayangkan sebagian orang tidak menyetujui keputusan si bapak, karena mereka sangat menginginkan agar si anak diadzankan. Anehnya ketika si bapak ingin melakukan tahnik kepada si anak, terlihat orang di sekeliling menjadi heran. Padahal mentahnik bayi merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ketika Abu Thalhah mendapat anak beliau langsung membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mentahniknya dengan kurma dan menamakannya: Abdullah. (Dikeluarkan oleh Bukhari [no. 5470] dan Muslim [6/174-175] dalam hadits yang panjang dari jalan Anas bin Malik).

Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit (mulut)nya. Dilakukan demikian kepada bayi agar supaya ia terlatih terhadap makanan dan untuk menguatkannya. Dan yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Dan yang lebih utama (ketika) mentahnik adalah dengan kurma.

Pada kesempatan kali ini kami akan mengemukakan derajat hadits tentang mengadzankan bayi yaitu,

Hadits pertama:

“Barangsiapa yang dikaruniai seorang bayi, lalu dia adzani di telinga bagian kanannya dan iqamat di telinga bagian kirinya, maka dia tidak akan ditimpa gangguan jin.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman [VI/390], Abu Ya’la [no. 6780], Ibnu Sunni dalam Amalul Yaumi wa Lailah [no. 623] dari jalan Yahya bin al-‘Ala’ dari Marwan bin Salim dari Thalhah bin ‘Ubaidillah dari Husain bin ‘Ali).

Sanad hadits ini maudhu’ (palsu), disebabkan Yahya bin al-‘Ala’ dan Marwan bin Salim adalah dua rawi yang memalsukan hadits. (Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah [no. 321]). (Lihat buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer” bab Adzan dan Iqamat dan buku “Bekal-Bekal Menuju Pelaminan Mengikuti Sunnah” tentang Hukum Membisikkan Adzan dan Iqamat).

Hadits kedua:

Riwayat dari Abu Rafi’ ia berkata: “Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membisikkan adzan di telinga al-Hasan ketika Fatimah melahirkannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud [XIV/9], at-Tirmidzi [1514] al-Hakim [III/179] dan lain-lain dari jalur Sufyan dari Ashim bin Ubeidullah dari Ubeidullah dan seterusnya).

Hadits ini dha’if (lemah) karena Ashim adalah perawi dha’if. Imam adz-Dzahabi mengatakan, “Ashim perawi dha’if.” (Lihat buku “Bekal-Bekal Menuju Pelaminan Mengikuti Sunnah” tentang Hukum Membisikkan Adzan dan Iqamat).

Setelah kita membaca pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada dalil yang sah tentang mengadzankan bayi. Oleh sebab itu tidak dianjurkan mengadzankan bayi ketika lahir.

Kalau mengadzankan bayi tidak disyari’atkan, lantas apa yang kita lakukan ketika anak lahir? Mari kita lihat sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Dari Abu Musa, dia berkata, “Telah dilahirkan untukku seorang anak laki-laki. Lalu aku membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian beliau menamakannya Ibrahim, lalu beliau mentahniknya dengan sebuah kurma dan mendo’akan keberkahan untuknya, lalu beliau menyerahkannya kepadaku (kembali).” (Hadits shahih riwayat Bukhari [no. 5467 dan 6198] dan Muslim [6/175]).

Dari sunnah Rasulullah di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa yang kita lakukan ketika anak lahir adalah: memberi nama, mentahnik dan mendo’akan keberkahan.

Allahu a’lam.

Penulis: Abu Aslam bin Syahmir bin Marbawi

Rujukan: Tulisan ini banyak mengambil manfaat dari;

1. Buku “Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer ” tulisan Ustadz Yusuf Abu Ubaidah bin Mukhtar as-Sidawi, penerbit Media Tarbiyah.

2. Buku “Menanti Buah Hati & Hadiah Untuk Yang Dinanti” tulisan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, penerbit Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

3. Buku “Bekal-Bekal Menuju Pelaminan Mengikuti Sunnah” terjemahan dari kitab “al­-Insyirah fi Aaadaabin Nikah” tulisan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari, penerbit at-Tibyan.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Lainnya:

Jangan Jauhkan Anak-Anak Dari Masjid

Jangan Ganggu Anak-Anak Ketika Mereka Shalat

Posted on Maret 31, 2011, in ANAK and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. ooohhh, gitu ya. terimakasih banyak lah klw begitu.

  2. assalamu’alaikum, afwan, ana ingin bertanya mengenai tahnik. apakah tahnik tersebut dapat mengubah sifat atau hukum terhadap air kencing si bayi (laki-laki)? karena yg pernah ana dengar bahwa untuk membersihkan/mensucikan air kencing bayi laki-laki adalah cukup dengan memercikkannya dengan air, selama bayi (laki-laki) tersebut belum makan makanan selain ASI. afwan, mohon penjelasan dan koreksinya. jzklh khrn.

  3. Trims atas atas artikelnya yang bagus n bermanfaat, salam kenal. Jazakallohu khairon..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: