Mengenal Ulama : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Sesungguhnya ilmu dan ulama mempunyai kedudukan yang sangat mulia. Allah Ta’ala memuji para ulama dalam firman-Nya:

“Allah mengatakan bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi, melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada yang berhak diibadahi, melainkan Dia. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran[3]: 18)

Ada beberapa hal yang bisa kita petik dari ayat di atas, di antaranya:

1. Keutamaan ilmu dan para ulama dari selain mereka.

2. Sejalannya kesaksian para ulama dengan Allah Ta’ala dan para malaikat.

Ketahuilah wahai Saudaraku, para ulama kita terdahulu telah berjuang keras untuk berkhidmat kepada agama Islam dan membela sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Karena, sunnah adalah sumber syariat Islam, sama seperti al-Qur’an dan darinyalah para ulama bersandar dalam memberikan hukum sebagaimana mereka bersandar kepada al-Qur’an.

Suatu kemudahan dan karunia Allah untuk umat ini adalah dengan menjadikan kehidupan mayoritas para ulama berkhidmat untuk ilmu agama Islam ini. Mereka mengerahkan segala kemampuan untuk ilmu itu. Mereka tahan menempuh jarak yang sangat jauh dan penuh dengan aral melintang. Bahkan, tahan siksaan demi mencari ilmu dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam serta mengurutkan sanad-sanadnya. Mereka tidak pernah mengharapkan kemilau dunia. Dunia bagi mereka adalah hari-hari yang berlalu. Tujuan mereka hanyalah menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala (artinya): “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. at-Taubah[9]:122)

Diriwayatkan dari Abu ad-Darda’ dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhuma dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Ilmu hanya akan didapat dengan belajar. Kesabaran dan kemudahan hati hanya akan didapat dengan bersungguh-sungguh. Barangsiapa yang menginginkan kebaikan, akan diberikan kepadanya, barangsiapa yang menjaga dirinya dari kejelekan, ia akan dilindungi.” (Shahih al-Jami’, 2328)

Dalam riwayat lain disebutkan: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan untuknya, Allah akan jadikan ia faham akan agama. Ilmu hanya akan didapat dengan belajar.” (Shahih al-Bukhari, [1/37]). Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu tidak akan didapat kecuali dengan belajar. Dan ilmu tidak akan didapat jika kita malas ikut belajar dalam majelis ilmu dan malas membaca kitab para ulama. Hadits ini bantahan terhadap suatu ajaran yang meyakini ilmu ladunni, yaitu ilmu yang diperoleh dengan meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala tanpa usaha untuk mencarinya, hanya duduk di sebuah pojok atau bertelekan di suatu tempat, lalu Allah akan memberikan ilmu (???). Begitulah yang mereka yakini. Tentunya ini adalah suatu hal yang keliru (kalau tidak mau dikatakan amat sangat keliru) dan bertentangan dengan hadits di atas.    

Ketahuilah, salah seorang di antara ulama kita yang berkhidmat kepada agama Islam adalah bernama Syaikh Muhammad bin Shalih bin Muhammad al-Utsaimin. Ketika hidupnya beliau pernah menjadi anggota Hai’ah Kibarul Ulama di Kerajaan Saudi Arabia dan pernah menjadi Imam dan Khatib di masjid besar kota Unaizah.

Kelahiran dan Masa Kanak-kanak Syaikh Muhammad al-Utsaimin

Syaikh Muhammad al-Utsaimin Rahimahullah lahir di kota Unaizah-salah satu kota di daerah Qasim-, pada tanggal 27 Ramadhan 1347 Hijriyah, dalam keluarga yang terkenal agamis dan istiqamah. Bahkan, dia pernah belajar kepada salah seorang anggota keluarganya, kakek dari jalur ibunya, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Sulaiman Alu Damigh Rahimahullah. Dia (Syaikh al-Utsaimin) belajar al-Qur’an kepadanya hingga hafal. Dia (Syaikh al-Utsaimin) dikaruniai kecerdasan, kemauan keras, dan perhatian dalam menuntut ilmu dengan bersentuhan lutut di majelis para ulama. Terlebih lagi di majelis Syaikh al-Mufassir Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di telah menunjuk dua orang muridnya untuk mengajar anak-anak kecil, yaitu Syaikh Ali ash-Shalihi dan Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Muthawwa’. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin belajar kepada keduanya kitab Mukhtashar al-Aqidah al-Wasithiah karangan Syaikh as-Sa’di, Minhaj as-Saalikin karangan Syaikh as-Sa’di, al-Jurumiah, dan al-Fiah dalam ilmu nahwu dan sharaf. Beginilah masa kecil Syaikh al-Utsaimin di antara asuhan para ulama.

Syaikh al-Utsaimin menuntut ilmu

Syaikh pergi menuntut ilmu  ke Riyadh ketika dibuka universitas pada tahun 1372 Hijriah. Dia masuk ke universitas tersebut. Syaikh bercerita; “Aku masuk universitas pada tahun kedua. Aku masuk setelah mendapat dorongan dari Syaikh Ali ash-Shalihi dan meminta izin kepada Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah. Universitas pada waktu itu terbagi kepada dua bagian, umum dan khusus, aku di bagian khusus. Pada waktu itu seseorang boleh melompat ke jenjang berikutnya. Dengan kata lain seseorang bisa mengejar pelajaran di jenjang berikutnya semasa liburan, kemudian bisa ikut ujian di awal tahun. Jika lulus, ia boleh masuk ke jenjang berikutnya. Dengan ini ia bisa mempersingkat waktu belajarnya. Lalu aku masuk ke fakultas syariah di Riyadh secara intisab (seperti program universitas terbuka) dan menamatkan pendidikan di fakultas tersebut…..”

Selama keberadaannya di Riyadh dia menyempatkan diri untuk belajar kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah. Dia belajar dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz Shahih al-Bukhari, beberapa risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan beberapa kitab fiqih.

Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata; “Sungguh aku terkesan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz Hafizhahullah dari segi perhatiannya kepada hadits dan akhlak. Dia menyerahkan dirinya untuk orang banyak…..”

Syaikh Utsaimin mulai menulis pada tahun 1382 Hijriyah ketika dia mengarang buku yang berjudul Fathu Rabbil Bariyah bi Talkhish al-Hamawiah, yaitu ringkasan kitab karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, al-Hamawiah fi al-Aqidah.

Guru-Guru Syaikh al-Utsaimin

Syaikh Ibnu al-Utsaimin menuai faidah dari beberapa syaikh. Sebagiannya di kota Unaizah dan yang lainnya di Riyadh ketika dia menetap untuk melanjutkan pendidikan formalnya. Salah seorang gurunya adalah Syaikh as-Sa’di, wafat pada tahun 1376 Hijriah. Syaikh as-Sa’di adalah salah seorang ahli tafsir yang terkenal, pengarang kitab tafsir Taisir Karimurrahman fi Tafsir Kalamil Mannan yang terdiri dari delapan jilid. Dia (Syaikh as-Sa’di) juga mempunyai banyak karangan dalam masalah fiqih, ushul, qawa’id, aqidah, dan yang lainnya. Syaikh as-Sa’di telah berhasil mencetak ulama yang benar-benar ahli di bidangnya. Sebagian mereka adalah anggota Hai’ah Kibarul Ulama, diantaranya adalah Syaikh al-Utsaimin yang telah banyak belajar dan memetik faidah dari Syaikh as-Sa’di hampir sebelas tahun. Sepertinya Syaikh al-Utsamin adalah murid Syaikh as-Sa’di yang paling menonjol, oleh karena itulah dia menggantikan Syaikh as-Sa’di sebagai imam di masjid besar dan mengajar serta memberi fatwa.  

Murid-Murid Syaikh Utsaimin

Cukup susah bagi seseorang untuk menghitung orang yang pernah belajar kepada Syaikh. Karena, majelisnya selalu penuh sesak, apalagi belakangan mungkin mencapai lebih lima ratus orang di sebagian pelajaran yang dia sampaikan dari berbagai tingkatan. Pada awalnya yang menghadiri majelis Syaikh tidak lebih dari sepuluh orang. Ketika itu Syaikh belum terkenal. Ketika dia terkenal, berdatanganlah orang-orang yang haus akan ilmu dari berbagai penjuru, hal ini mungkin disebabkan beberapa faktor, di antaranya:

~Kejujuran dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu dan mengajar, serta pengorbanannya dalam hal tersebut.

~Terjunnya dia untuk mengajar di Masjidil Haram Makkah di bulan Ramadhan. Orang-orang penuh sesak di Masjidil Haram pada bulan Ramadhan, apalagi penuntut ilmu, khususnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Mereka bersila mengelilingi Syaikh.

~Penyampaiannya baik dari segi lafazh maupun makna sangat jelas sekali, ditambah cara dan ibaratnya yang menarik serta bisa dicerna, sekalipun oleh orang awam, apalagi penuntut ilmu.

~Selamat manhajnya dalam aqidah.

~Tidak fanatik terhadap suatu mazhab dalam seluruh masalah hukum. Akan tetapi, dia selalu memilih pendapat yang berlandaskan kepada dalil (landasan) yang kuat.

~Banyaknya kaset rekaman kajiannya yang sampai tersebar ke negara-negara di Eropa dan Amerika sehingga banyak orang yang berdomisili di pusat-pusat kajian Islam di sana mendapatkan faidahnya. Mereka selalu mengikuti perkembangan rekaman kajian-kajian Syaikh, berupa penjabaran (penjelasan) terhadap kitab-kitab ilmiah yang hanya khusus untuk para penuntut ilmu, yang ia jabarkan dengan penjabaran yang lengkap di kaset-kaset tersebut. Misalnya kitab at-Tadmuriah, Fathu Rabbil Bariah, al-Aqidah al-Wasithiah karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.

~Banyaknya karangannya, yang kebanyakan dalam bentuk buku kecil, akan tetapi kaya manfaat. Jelas ibaratnya dan tidak terdapat kerancuan yang sulit dipahami, dan dapat dipahami oleh orang awam sekalipun, apalagi para penuntut ilmu. Tulisannya mendapat sambutan yang hangat dari khalayak ramai, bahkan telah diterjemahkan sebagiannya ke berbagai bahasa, apalagi bahasa Inggris dan telah tersebar di mayoritas negara di dunia.

Peninggalan Ilmiah

Syaikh Utsaimin Rahimahullah telah mengarang dan meninggalkan karya ilmiah dalam berbagai bidang, baik berupa rekaman ataupun tulisan dalam masalah aqidah, fiqih, hadits, budi pekerti, akhlak, muamalat, dan lainnya. Semua itu berpengaruh besar dan bermanfaat bagi orang banyak.

Tulisan dan karangan Syaikh Utsaimin terkenal jelas dan gamblang. Jelas dari segi lafazh dan maknanya, jauh dari ungkapan-ungkapan panjang dan membosankan, atau terlalu ringkas sehingga sulit dimengerti. Karangannya selalu disertai dengan dalil yang shahih dan komentar yang tegas. Dengan kepiawaiannya dalam menyusun bab dan pembagiannya terhadap apa yang memang perlu dibagi, membuat karangan tersebut menjadi indah dan bagus.

Syaikh selalu berusaha untuk tidak memaksakan pendapatnya dalam hal-hal yang butuh untuk dimusyawarahkan. Bahkan dia berusaha untuk mengikutsertakan muridnya untuk memberikan pendapat. Tidak jarang juga Syaikh lebih memilih pendapat muridnya dari pendapatnya sendiri. Tidak mengherankan lagi bahwa hal seperti ini adalah semacam latihan bagi mereka untuk berani mengungkapkan kebenaran. Beralihnya Syaikh dari pendapatnya dan memilih pendapat muridnya bukanlah suatu aib. Akan tetapi, sebetulnya ini adalah sifat mulia yang pantas untuk ditiru.

Syaikh Rahimahullah juga mengadakan pelajaran tambahan yang diisi oleh sebagian muridnya yang telah mampu dalam bidang keilmuannya. Dia menyuruh mereka untuk mempersiapkan dan mengajarkan ilmunya untuk para pemula.

Syaikh Ibnu Utsaimin & Kaum Muslimin

Semasa hidupnya, Syaikh Utsaimin senantiasa mengikuti berita-berita tentang kondisi kaum muslimin. Sisi ini jarang diketahui dan tersembunyi dari banyak orang. Kebanyakan orang hanya tahu bahwa Syaikh sibuk dalam mengajar, mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk ilmu, menelaah ilmu, berfatwa dan segala yang terkait dengan itu saja. Tak banyak orang yang tahu, ternyata Syaikh punya perhatian besar terhadap problematika keislaman dan kaum muslimin. Syaikh bahkan mengikuti kabar tentang kaum muslimin di berbagai belahan dunia, tidak sebatas yang ada di negeri beliau, atau dunia Arab saja. Beliau memberikan perhatian terhadap pejuang yang berjihad melawan serangan orang-orang kafir. Seperti di Bosnia, Afghanistan dan Chechnya. Salah satu bukti perhatian beliau adalah adanya surat dari Majelis Permusyawaratan Tertinggi Chechnya, setelah beliau wafat. Mereka turut berduka cita dengan kepergian Syaikh sekaligus dengan jujur mengatakan dalam suratnya, “…Adapun wafatnya Syaikh al-Faqih Muhammad bin Shalih al-Utsaimin merupakan hal yang sangat besar. Karena kami khususnya, telah kehilangan seseorang, kami kehilangan seorang yang sangat bersemangat dalam membantu kami dan menghubungi kami secara berkala. Dari beliau kami dengarkan nasihat, bimbingan dan fatwa. Dari beliau pula kami mendapat dukungan. Sungguh beliau adalah seorang ayah yang penuh kasih sayang. Jikalau manusia melupakan keutamaan Syaikh, maka kami tak akan pernah melupakan kebersamaan beliau di perang pertama-pertempuran pertama di Chechnya-dan dukungan beliau pada kami di tengah-tengah perang. Dan setelah perang, beliau sangat bersemangat untuk membuka ma’had-ma’had serta mahkamah syariah. Kami tak pernah melupakan nasihat beliau dan arahan berkelanjutan beliau tentang urusan mahkamah dan penerapan syariat. Kami tak pernah melupakan kebersamaan beliau dengan kami di pertempuran yang masih terus berkecamuk sampai sekarang. Kami tidak melupakan kebersamaan beliau di pertempuran ini, baik dengan harta beliau dengan cara mengirim zakat beliau pada kami, sambil mengatakan “Zakat ini disalurkan untuk keperluan jihad saja.”  Atau kebersamaan beliau dengan mengarahkan manusia untuk mendukung kami. Kami juga tidak melupakan aktivitas beliau menghubungi kami setiap hari atau seperti setiap hari, demi mendengarkan berita tentang kami, atau demi mengetahui keadaan kami, problematika dan masalah syar’i….”

Bila demikian adanya, bukankah beliau sangat peduli dengan perjuangan umat Islam…?

 

Abu Aslam Benny bin Syahmir al-Minangkabawi

(muslimsumbar.wordpress.com)

Rujukan:

  1. Perjalanan Ulama Menuntut Ilmu, Abu Anas Majid al-Bankani, Cetakan I-Darul Falah-Jakarta, th. 1427 H.
  2. Majalah elFata, edisi 01, volume 08.

 

 

Posted on Mei 2, 2011, in ULAMA and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: