ADAB DAN AKHLAQ

DIANGGAP SUNNAH NABI PADAHAL BUKAN

Banyak orang beranggapan bahwa menduduki bagian dalam telapak kaki kiri dan menegakkan betis kaki kanan ketika makan adalah suatu hal yang dianjurkan karena itulah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ini adalah anggapan yang kurang tepat karena hadits yang menjadi dasar anggapan ini adalah hadits yang lemah (dha’if).

Tentang cara duduk seperti itu al-Hafizh al-‘Iraqi mengatakan: Diriwayatkan oleh Abul Hasan bin al-Muqri dalam kitabnya yang berjudul al-Syama’il dengan redaksi, “Kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika duduk untuk makan beliau memilih posisi duduk orang gelisah dengan menjadikan lutut kaki kiri sebagai tumpuan agar mudah bangkit berdiri dan menegakkan betis kaki kanan kemudian mengatakan, ‘Aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba sahaya makan dan aku berbuat sebagaimana seorang hamba sahaya berbuat.’” Namun sanadnya lemah.

(Ihya’ Ulumuddin karya Abu Hamid al-Ghazali yang dicetak bersama al-Mughni ‘An Hamli al-Asar fi Takhrij Ma fil Ihya’ min Akbar karya al-Hafizh al-‘Iraqi juz 2 hlm. 5, terbitan Darul Fikr, Beirut, 1428 H).

BERSIKAP KEPADA MUSUH

Ibnul Qayyim mengatakan, “Aku tidak mengetahui seorang yang memiliki sifat-sifat ini selain Ibnu Taimiyyah. Semoga Allah menyucikan arwahnya.”

Salah seorang murid senior beliau pernah mengatakan, “Aku berharap bisa bersikap dengan para sahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya. Aku tidak pernah mengetahui Ibnu Taimiyyah mendo’akan kejelekan untuk seorangpun dari musuh-musuhnya. Sebaliknya, beliau sering mendo’akan kebaikan untuk mereka.

Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku, dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).

Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, ‘Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian,’ dan ucapan semisal itu. Akhirnya mereka pun bergembira, mendo’akan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah, dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Semoga Allah menyayangi dan meridhai Ibnu Taimiyyah.”

(Madarij as-Salikin karya Ibnul Qayyim: 2/328-329, tahqiq Imad ‘Amir, terbitan Darul Hadits, Kairo, cet. Pertama 1316 H).

TIDUR SETELAH SHALAT ASHAR

Pertanyaan, “Ada orang yang bilang bahwa tidur setelah mengerjakan shalat Ashar hukumnya haram. Benarkah itu?”

Jawaban Lajnah Da’imah, “Tidur setelah shalat Ashar adalah kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang. Hukumnya adalah boleh karena hadits-hadits mengenai larangan tidur setelah Ashar tidaklah tergolong hadits yang shahih.”

Fatwa di atas ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua Lajnah Da’imah, Abdullah bin Ghadayan, Shalih al-Fauzan, Abdul Aziz alu Syaikh, dan Bakr Abu Zaid masing-masing sebagai anggota.

(Fatawa Lajnah Da’imah yang dikumpulkan oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazzaq ad-Duwaisy, jilid 26 kitab al-Jami’ hlm. 147-148, terbitan Ulin Nuha lil Intaj, Kairo).

Catatan:

Diambil dari tulisan Ustadz Aris Munandar (semoga Allah menjaganya) dalam majalah al-Furqon edisi 10 tahun ke-10 Jumada Ula 1432 (April 2011)

Disalin dengan sedikit perubahan. Disalin oleh Benny Abu Aslam.

 

Iklan

Posted on Juni 20, 2011, in ADAB, AKHLAQ and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: