Budaya Pengkultusan Kuburan adalah Penyebab Kesyirikan

Segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang telah menjelaskan tauhid dengan segala sendi dan cabang-cabangnya serta pembatalnya.

Pada kesempatan kali ini kita ingin membahas tentang penyebab dominan timbulnya kesyirikan di tengah-tengah umat manusia. Di antaranya yaitu pengkultusan terhadap kuburan nenek moyang, orang shalih, dan orang yang dianggap shalih.

Di antara sebab yang membawa kepada pengkultusan kuburan:
1. Meninggikan kuburan lebih dari satu jengkal
Sebagian kaum muslimin meninggikan kubur melebihi dari hal yang dibolehkan agama. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka belum memahami tuntunan agama. Imam Muslim meriwayatkan: “Dari Abu Hayyaaj al-Asady, ia berkata: Berkata kepadaku Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu: Maukah engkau aku utus untuk melakukan sesuatu yang aku juga diutus oleh Rasulullah untuk melakukannya? Jangan engkau tinggalkan sebuah patung melainkan engkau hancurkan. Dan tidak pula kuburan yang ditinggikan kecuali engkau datarkan.”

“Dari Tsumamah bin Syufai, ia berkata: Aku pernah bersama Fudholah bin Ubaid di negeri Romawi ‘Barudis’. Lalu meninggal salah seorang teman kami. Maka Fudholah menyuruh untuk mendatarkan kuburannya. Kemudian ia berkata: Aku mendengar Rasulullah menyuruh mendatarkannya.” (HR. Muslim).

2. Menembok dan mencat kuburan
Di antara kebiasan buruk yang bisa membawa kepada sikap pengkultusan kuburan adalah menembok dan mencat kuburan. Di samping hal itu diharamkan dalam agama, termasuk pula membuang harta kepada sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Dan yang lebih ditakutkan adalah akan terfitnahnya orang awam dengan kuburan tersebut. Sehingga mereka menganggap kuburan tersebut memiliki berkah dan sakti.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang dengan tegas menembok dan mencat kuburan. “Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah melarang mencat kubur, duduk di atasnya dan membangun di atasnya.” (HR. Muslim).

3. Membangun rumah untuk kuburan
Sebagian orang ada pula yang mebangunkan rumah untuk kuburan. Bahkan kadang kala biayanya cukub besar. Ini adalah salah satu bentuk penyia-nyiaan dalam penggunaan harta. Mungkin orang yang melakukan hal tersebut berasumsi bahwa si mayat mendapat naungan dan nyaman dalam kuburnya. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan kenyamanan dalam kubur kecuali amalan sendiri, walau seindah apa pun kuburan seorang tersebut. “Ibnu Umar melihat sebuah tenda di atas kubur Abdurrahman. Maka ia berkata: ‘Bukalah tenda tersebut wahai anak muda, karena sesungguhnya yang melindunginya adalah amalannya.’” (HR. Bukhari: 1/457).

4. Duduk dan makan di kuburan
Bentuk lain yang merupakan jalan yang membawa kepada pengkultusan kuburan adalah kebiasaan sebagian orang mendatangi kuburan pada momen-momen tertentu. Seperti mau masuk bulan Ramadhan, Lebaran atau masa setelah panen. Mereka berbondong-bondong ke kuburan dengan membawa tikar dan makanan. Lalu sesampai di kuburan membentangkan tikar dan duduk bersama-sama. Dilanjutkan dengan rangkaian acara tahlilan dan do’a setelah itu ditutup acara makan bersama. Jika hal tersebut kita timbang dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah, maka sungguh sangat bertolak belakang sama sekali. Jangankan untuk tahlilan dan makan bersama, duduk saja tidak diperbolehkan. “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: ‘Sungguh salah seorang kalian duduk di atas bara api lalu membakar baju sehingga tembus ke kulitnya lebih baik daripada ia duduk di atas kuburan.’” (HR. Muslim).

Kiranya sabda Nabi di atas amat jelas bagi orang yang hatinya mau menerima nasihat. Adapun orang yang mata hatinya sudah ditutup oleh Allah dari menerima petunjuk, niscaya ia akan berupaya mencari-cari alasan untuk menolaknya.

5. Membaca al-Qur’an di kuburan
Sebagian orang ada yang berpandangan adanya keutamaan membaca al-Qur’an ketika berziarah kubur seperti membaca QS. al-Fatihah [1], QS. al-Ikhlas [112] atau QS. Yasin [36], dan yang lainnya. Bahkan ada yang menyewa orang lain khusus untuk membaca dan mengkhatamkan al-Qur’an di kuburan keluarganya pada hari-hari tertentu. Hal tersebut tidak pernah dianjurkan dalam agama ini. Yang dianjurkan ketika berziarah kubur hanyalah membaca do’a ziarah kubur. Berbeda dengan orang yang suka melakukan hal-hal yang baik menurut pikiran dan perkiraan mereka semata. Tetapi tidak baik menurut Allah karena hal tersebut merupakan perkara ibadah yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam agama. Kalau seandainya hal tersebut baik, pastilah Allah memerintahkan kepada Rasulullah dan para sahabat melakukannya. Apakah kita lebih tahu dari Allah tentang hal yang baik?! “Katakanlah apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah” (QS. al-Baqarah [2]: 140).

6. Menganggap shalat dan berdo’a di kuburan lebih utama
Keyakinan lainnya yang amat aneh adalah pendapat yang mengatakan bahwa shalat dan berdo’a di kuburan jauh lebih baik daripada di masjid, bahkan berasumsi lebih cepat terkabulkan. Yang lebih celaka lagi adalah meminta kepada si penghuni kubur. Ini sudah merupakan kesyirikan yang serupa dan telah diperbuat oleh umat jahiliyyah dahulu.

Syariat Islam tidak membolehkan shalat di tempat yang pada arah kiblatnya terdapat kuburan, lebih-lebih shalat di tempat yang sekelilingnya kuburan. Di antara perbuatan dalam shalat adalah duduk, maka duduk pun dilarang di kuburan. Maksudnya di tempat tanah pekuburan, meskipun tidak persis di atas kuburan. “Dari Abu Martsid al-Ghanawy Radhiyallahu ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: ‘Janganlah kamu duduk di atas kuburan dan jangan pula shalat menghadapnya.’” (HR. Muslim).

7. Membangun masjid dekat kuburan atau mengubur mayat di pekarangan masjid
Sebagian orang telah terjerumus ke dalam kebiasaan ahli kitab (yahudi dan nasrani), mereka membangun masjid dekat kuburan orang-orang yang mereka anggap shalih. Atau menguburkannya di pekarangan masjid. Padahal larangan terhadap perkara tersebut dengan tegas telah dijelaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. “Dari Jundub ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda lima hari sebelum beliau wafat: ‘Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah! Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari hal itu.’” (HR. Muslim).

“Dari Aisyah bahwa Ummu Salamah menyebutkan kepada Rasulullah sebuah gereja yang ia lihat di negeri Habasyah, yang diberi nama gereja Maria. Ia menceritakan bahwa ia melihat lukisan di dalamnya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: ‘Mereka adalah kaum yang bila meninggal seorang yang shalih di kalangan mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan membuat lukisan-lukisan tersebut di dalamnya. Mereka adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari kedua hadits di atas sangat jelas menegaskan tentang haramnya membangun masjid di atas tanah pekuburan. Barangsiapa melakukannya maka ia telah melanggar larangan Nabi sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Jundub Radhiyallahu ‘anhu. Orang yang melakukannya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Bahkan Nabi melaknat orang yang membangun masjid di atas tanah kuburan. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Aisyah dan Ibnu Abbas. “Dari Aisyah dan Abdullah Ibnu Abbas keduanya berkata: Tatkala Rasulullah semakin merasakan sakit, beliau menutup mukanya dengan bajunya. Apabila sakitnya agak berkurang beliau membuka mukanya. Dalam kondisi seperti itu beliau bersabda: ‘Laknat Allah lah atas orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi memperingatkan terhadap apa yang mereka perbuat. Di antara hikmah Rasulullah mengatakan hal tersebut saat beliau akan wafat adalah agar umat ini jangan meniru apa yang dilakukan orang Yahudi dan Nasrani tersebut. Kuburan para nabi saja tidak boleh dijadikan sebagai masjid, apa lagi kuburan selainnya!!

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya larangan Nabi menjadikan kuburannya dan kuburan lainnya sebagai masjid karena khawatir timbulnya fitnah. Karena hal tersebut bisa membawa kepada kekufuran sebagaimana telah terjadi pada kebanyakan umat-umat yang lalu.” (Lihat Syarah an-Nawawi: 5/13).

8. Bertawassul dan beristighatsah dengan orang yang sudah mati
Ketika sebagian muslimin tidak mengindahkan berbagai nasihat Nabi yang telah dijelaskan di atas, lalu setan menjerumuskan mereka kepada hal-hal yang membawa kepada kesyirikan. Sehingga sebagian orang telah memaknai lain terhadap kuburan. Mereka menjadikan kuburan sebagai mediator untuk berdo’a, mereka bertawassul dan beristighatsah dengan orang mati.

Pada hakikatnya bertawassul itu terbagi kepada beberapa bentuk. Ada yang diperbolehkan dan ada pula yang terlarang. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, bertawassul dengan amal shalih dan bertawassul dengan do’a orang shalih yang hidup lagi hadir. Yang terlarang adalah bertawassul dengan dzat dan jaah (kedudukan) orang shalih, bertawassul dengan orang shalih yang masih hidup tetapi tidak hadir dan bertawassul dengan orang yang sudah mati.

Sebagian orang memahami dan mengira bahwa kehidupan para nabi, orang yang mati syahid dan orang-orang shalih di alam barzakh sama seperti kehidupan mereka di alam dunia. Mereka mengira bahwa Nabi atau orang shalih tersebut dapat mendengar do’a wali dengan maksud agar dibantu mencarikan jalan keluar dari kesulitan yang mereka hadapi. Ada yang meminta jodoh, pekerjaan, dimudahkan usahanya, disembuhkan penyakitnya dan seterusnya. Jangankan setelah kematian wali, sewaktu hidupnya saja para wali tersebut tidak mampu memenuhi permintaan mereka. Jika meminta kesembuhan kepada mereka, wali itu sendiri tidak mampu menyembuhkan penyakitnya sampai dirinya meninggal.

Kenapa kita tidak secara langsung meminta kepada Allah Yang Maha Pengasih, Maha Kaya lagi Maha dekat dan Maha sempurna dalam segala sifat-sifat-Nya yang mulia sedangkan selain Allah adalah makhluk yang memiliki kekurangan dan kelemahan dalam berbagai segi. Ia tidak dapat mendengar dari jarak jauh, apalagi setelah mati.

Tidak pernah kita temukan pada kehidupan para sahabat bahwa mereka bertawassul dengan beristighatsah dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apalagi dengan para sahabat yang telah meninggal. Sekalipun di antara mereka yang meninggal tersebut ada yang dijamin masuk surga oleh Allah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian pula jika kita melihat do’a-do’a mustajab yang diajarkan Rasulullah kepada sahabat beliau, tidak ada satupun dijumpai yang berkonteks tawassul dan beristighatsah dengan orang mati.

Adapun dalil-dalil yang menyebutkan tentang si mayat dapat mendengar langkah orang yang mengantarkannya ke kubur tidaklah menunjukkan bahwa ia mendengar selama-lamanya. Namun hanya pada saat itu saja dan yang dapat ia dengar hanyalah suara langkah saja, bukan semua apa yang ada di atas dunia. Kalau tidak demikian tentu mereka juga tersiksa dengan suara petir, hujan, angin kencang, suara binatang dan serangga yang ada di sekitar kuburnya serta segala hal yang memekakkan di dunia ini.

Catatan: Tulisan ini diringkas oleh Abu Aslam dari majalah al-Furqon no. 95 edisi khusus tahun ke-9 (1430/2009). Diringkas dari tulisan Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA. Abu Aslam melakukan sedikit perubahan pada tulisan tanpa mengubah maksud tulisan.

Posted on Juni 23, 2011, in AQIDAH and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: