FAEDAH TENTANG MANHAJ

MANHAJ SEJATI KITA

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah berkata: “Manhaj kita (kaum muslimin, Pen.) adalah seluruh ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan (yang artinya), ‘Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara totalitas.’ (QS. Al-Baqarah [2]: 208).”

(Perkataan ini beliau sampaikan dalam kata pengantar beliau untuk buku al-Siraj al-Wahhaj bi Shahih al-Minhaj karya Abul Hasan al-Ma’ribi hlm. 11, Maktabah al-Idrisi, Shan’a, Yaman, cet. kedua, 1421 H).

Penjelasan Syaikh Muqbil di atas menunjukkan bahwa manhaj atau minhaj seorang muslim sejati adalah seluruh ajaran al-Qur’an dan Sunnah baik terkait dengan adab, akhlak, ibadah, dan mu’amalah adalah manhaj (baca: jalan) seorang muslim.

MASA DAKWAH LEMAH LEMBUT

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan: “Zaman ini adalah zaman dakwah dengan penuh lemah lembut, dengan penuh rasa sabar dan sikap hikmah, bukan zaman yang tepat untuk berdakwah dengan cara keras. Mayoritas manusia saat ini adalah bodoh tentang agama, dalam kelalaian, dan lebih mengutamakan dunia sehingga harus dengan penuh kesabaran dan kelemahlembutan agar seruan kebaikan sampai ke hati mereka sehingga mereka mendapatkan ilmu. Kami memohon kepada Allah agar Dia melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.”

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah juz 8 hlm. 376 dan juz 10 hlm. 91, terbitan Dar Ashda’ al Mujtama’, Qashim, KSA, cet. ketiga, 1428 H).

CIRI KHAS AHLI SUNNAH

Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Khawarij itu menganggap ahli sunnah sebagai orang kafir. Demikian pula mayoritas Mu’tazilah menilai kafir orang di luar kelompok mereka. Demikian pula mayoritas Rafidhah. Ahli bid’ah yang tidak mengkafirkan orang di luar kelompoknya itu memilih untuk memvonis fasik orang di luar kelompoknya. Demikianlah mayoritas ahli bid’ah. Mereka membuat sebuah pemikiran baru lantas mereka kafirkan semua orang yang tidak menyetujuinya dalam pemikiran tersebut. Adapun ahli sunnah, mereka adalah orang-orang yang mengikuti kebenaran yang berasal dari Allah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ahli Sunnah tidak mengkafirkan semua orang yang menyelisihi mereka dalam menyikapi kebenaran yang berasal dari Allah. Ahli Sunnah adalah orang yang paling mengerti tentang kebenaran dan orang yang paling menyayangi sesama.”

(Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah fi Naqdhi Kalam asy-Syi’ah al-Qadariyyah karya Ibnu Taimiyyah – tahqiq Dr. Muhammad Rosyad Salim juz 5 hlm. 158, cet. pertama, 1406 H).

MENGELUARKAN ORANG DARI AHLI SUNNAH

Imam Ahli Sunnah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah mengatakan: “Mengeluarkan seseorang dari ahli sunnah adalah suatu hal yang berat.”

(As-Sunnah karya Khallal – tahqiq Dr. Athiyah az-Zahrani, terbitan Dar ar-Rayah, Riyadh, cet. pertama, 1410 H).

KELUAR DARI AHLI SUNNAH

Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Ketidakberesan dalam masalah tauhid itu boleh jadi mengeluarkan seseorang dari golongan yang selamat (baca: ahli sunnah) semisal kerusakan dalam prinsip beribadah hanya kepadaAllah. Demikian pula bid’ah. Boleh jadi seseorang itu melakukan berbagai bid’ah yang mengeluarkan dirinya dari status sebagai bagian dari golongan yang selamat (baca: ahli sunnah). Sedangkan dalam masalah akhlak dan interaksi, ketidakberesan dalam dua hal tersebut tidaklah mengeluarkan dari golongan yang selamat meskipun hal tersebut tentu saja menurunkan derajatnya.

(Fatawa Arkan al-Islam hlm. 23-24, terbitan Dar Tsaraya, Riyadh, cet. kedua, 1426 H).

KAPAN DISEBUT SEBAGAI AHLI BID’AH ?

Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “Bid’ah yang menyebabkan pelakunya dinilai sebagai ahli hawa adalah bid’ah yang terkenal di kalangan para ulama ahli sunnah sebagai sebuah bid’ah yang jelas-jelas menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah semisal bid’ah khawarij, rafidhah, qadariyyah, dan murjiah.”

(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah jilid 35 hlm. 414, cetakan standar).

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan: “Ahli bid’ah adalah orang yang memiliki kebiasaan melakukan hal yang bid’ah dalam agama, bukan hanya orang yang melakukan bid’ah meski bid’ah yang dia lakukan atau yang dikatakan itu memang secara realita bukan berasal dari ijtihad namun karena mengikuti hawa nafsu. Meski karena hawa nafsu, jika bid’ah tersebut tidak menjadi kebiasaannya maka pelakunya tidaklah dinilai sebagai ahli bid’ah. Jadi ada dua syarat agar seorang itu berstatus sebagai ahli bid’ah:

  1. Orang tersebut terjerumus ke dalam bid’ah bukan karena hasil berijtihad namun karena mengikuti hawa nafsu.
  2. Bid’ah adalah kebiasaan dan suatu hal yang sering dia gembar-gemborkan.”

(Kaset Silsilah al-Huda wan Nur no. 785).

Catatan: Tulisan ini dikutip oleh Abu Aslam dari tulisan Ustadz Aris Munandar dengan sedikit perubahan. Silahkan lihat majalah Al-Furqon edisi 11 tahun ke-10 Jumada Akhir 1432 [Mei-Juni 2011].

 

Posted on Juni 29, 2011, in MANHAJ and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum.. berkunjung akhi… kunjungi balik yah.. hehehe http://www.salamhanif.web.id/2011/06/all-about-seo.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: