MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA PARA MAYAT?

Pertanyaan:

Apakah hukum meminta pertolongan kepada seseorang yang sudah mati, seperti mengatakan, “Berilah pertolongan, wahai fulan.” Dan apa pula hukumnya bila dia meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup tetapi tidak berada di situ?

Jawaban:

Pertama, orang yang meminta pertolongan kepada seorang yang sudah mati seperti mengucapkan, “Berilah pertolongan, wahai fulan”, wajib dinasehati dan diperingatkan bahwa hal itu adalah sesuatu yang haram bahkan syirik. Jika dia tetap ngotot demikian, maka dia sudah menjadi musyrik dan kafir karena meminta kepada selain Allah, sesuatu yang tidak mampu melakukannya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hal ini, dia telah mengalihkan hak Allah kepada makhluk. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.” (Al-Maidah: 72).

Kedua, meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup dan tidak berada di tempat (ghaib) tidak boleh hukumnya karena ia merupakan permohonan (do’a) kepada selain Allah dan meminta kepadanya sesuatu yang tidak mampu melakukannya selain Allah. Ini juga syirik namanya sebagaimana firman Allah Ta’ala (artinya): “Siapa saja mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110).

Bermohon kepada orang yang hidup dan tidak ada di tempat (ghaib) merupakan bentuk ibadah; siapa saja yang melakukan hal itu, dia harus diberi nasehat. Jika dia tidak menerima, maka dia adalah seorang musyrik yang telah melakukan kesyirikan yang mengeluarkannya dari dien (agama) ini. Wa Shallallahu wa Sallama ‘ala Nabiyyina Muhammad.

(Kumpulan Fatwa Lajnah Da’imah, halaman 77)1.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzy [no. 2516], Ahmad [I/293, 303, 307-308], Al-Hakim [III/541, 542], dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Zhilaalul Jannah fii Takhriijis Sunnah [no. 315-318]. Dishahihkan juga oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad [no. 2669, 2763, 2804])2.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata: “Jika engkau meminta suatu keperluan, maka janganlah engkau meminta kecuali kepada Allah, dan janganlah meminta kepada makhluk sedikitpun.”3

Syaikh al-Utsaimin juga berkata: “Jika engkau menginginkan dan mengharapkan pertolongan dari seseorang, maka jangan mengharapkan pertolongan kecuali kepada Allah.”4

Kami (Abu Aslam) berkata: Seorang muslim hanya berdo’a kepada Allah. Tidak boleh berdo’a kepada selain Allah. Tidak boleh berdo’a kepada batu, patung, pohon, batu, mayat, kuburan, api, matahari dan lain-lain, berdo’alah hanya kepada Allah. Tidak boleh berdo’a kepada orang-orang shalih, syaikh-syaikh, tuangku-tuangku, buya-buya, ustadz-ustadz dan lainnya. Tidak boleh berdo’a kepada syaikh Burhanudin, syaikh Abdul Qadir Jailani, syaikh fulan, syaikh ini dan syaikh itu. Berdo’alah hanya kepada Allah.

Penulis: Abu Aslam Benny bin Syahmir

Keterangan:

  1. Buku “Fatwa-Fatwa Terkini” Jilid 1 (hal. 91) oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dan Lajnah Da’imah lil Buhuts al-Ilmiah wal Ifta’. Terbitan Pustaka Darul Haq (Serial Buku Darul Haq ke-106, Cetakan V). Edisi Bahasa Arab: Al-Fatawa asy-Syar’iyyah Fi al-Masa’il al-‘Ashriyyah Min Fatawa Ulama’ al-Balad al-Haram. Terbitan Mu’assasah al-Juraisiy, Riyadh (Cetakan I).
  2. Syarah Arba’in an-Nawawi (hadits ke-19), Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas . Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i.
  3. Syarhul Arba’in an-Nawawiyyah (hadits ke-19), halaman 133, Dar Ibnul Jauzi, al-Qahirah.
  4. Syarhul Arba’in an-Nawawiyyah (hadits ke-19), halaman 133, Dar Ibnul Jauzi, al-Qahirah.
Catatan: Gambar di atas hanya ilustrasi.
Iklan

Posted on Oktober 1, 2011, in AQIDAH, fatwa and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Inilah Indonesia
    Bukan ke Allah tapi ke……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: