TATA CARA MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan, “Tata cara menyembelih baik hewan kurban atau pun yang lain adalah dengan membaringkan hewan yang hendak disembelih pada lambung kirinya lalu orang yang hendak menyembelih meletakkan kaki kanannya pada lehernya sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ketika menyembelih Rasulullah menyebut nama Allah dan bertakbir. Lengkapnya, beliau ketika menyembelih mengucapkan, ‘Bismillah Wallahu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni kama taqabbalta min Ibrahim khalilika.’

Siapa saja yang membaringkan hewan yang hendak disembelih pada sisi kanan badannya dan meletakkan kaki kirinya pada lehernya, maka tangannya akan kerepotan untuk melakukan penyembelihan, dia seorang yang tidak mengenal sunnah, menyiksa diri sendiri dan hewan yang disembelih; akan tetapi, daging hewan tersebut halal untuk dimakan.

Membaringkan hewan yang hendak disembelih pada sisi kiri badannya itu lebih nyaman bagi hewan, nyawa hewan lebih mudah keluar, lebih mudah bagi orang yang hendak menyembelih, dan itulah sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dipraktikkan oleh kaum muslimin dan seluruh umat.”

(Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyyah jilid 26 halaman 309-310, cet. standar).1

Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).2

Allah Ta’ala berfirman: “Hendaklah takut orang-orang yang menyalahi perintahnya (yakni perintah Rasul) akan menimpa mereka fitnah atau menimpa mereka azab yang sangat pedih.” (QS. An-Nur [24]: 63).

وقوله: { فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ } أي: عن أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم، سبيله هو ومنهاجه وطريقته [وسنته] وشريعته

Firman Allah, “Hendaklah takut orang-orang yang menyalahi perintahnya,” yakni perintah Rasul yaitu jalan beliau, manhaj-nya, thariq-nya, Sunnah-nya, dan syari’at-nya.3

Penulis: Abu Aslam bin Syahmir al-Minangkabawi

Keterangan:

  1. Majalah al-Furqon edisi 4 th. Ke 11 Dzulqo’dah 1432 (Oktober-November 2011) rubrik Fawaid tulisan Ustadz Aris Munandar.
  2. Al-Kamil (al-Qur’an Terjemah) terbitan Darus Sunnah.
  3. Menanti Buah Hati & Hadiah Untuk Yang Dinanti, tulisan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Lihat juga Tafsir Ibnu Katsir ayat 63 pada Maktabah Syamilah.

Posted on Oktober 22, 2011, in fatwa, FIQIH, MANHAJ, qurban and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: