KAIDAH UMUM TENTANG BAB IBADAH DAN MUAMALAT

Masjid Nabi

Ibadah dan Muamalat

Telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di kitabnya al-Iqtidhaa’ (hal: 269 cetakan lama) dalam menjelaskan dasar-dasar Imam Ahmad dan para imam dalam membangun madzhab mereka:

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan manusia itu terbagi kepada (pertama):

Ibadah, yang mereka jadikan sebagai agama yang bermanfaat bagi mereka, dunia dan akhirat.

(Kedua): Adat (mu’amalat) yang bermanfaat di dalam kehidupan mereka.

Maka dasar di dalam ibadah ialah: Tidak boleh mensyariatkan sesuatu pun di dalam ibadah kecuali apa-apa yang Allah telah syariatkan (yakni ibadah itu sifatnya menunggu keterangan dari Allah dan Rasul-Nya).

Sedangkan dasar di dalam adat (mu’amalat) ialah: Tidak boleh melarang sesuatu kecuali apa-apa yang telah dilarang oleh Allah (yakni bab mu’amalat itu sifatnya menunggu larangan dari Allah dan Rasul-Nya)”. Sekian dari Ibnu Taimiyyah.

Dari kaidah di atas kita mengetahui, bahwa bab mu’amalat hukum asalnya boleh atau halal sampai datang dalil yang melarang atau yang mengharamkannya. Hal ini menunjukkan bahwa bab mu’amalat memiliki keluasan dan kelapangan demi memenuhi hajat dan kebutuhan manusia. Berbeda dengan bab ibadah yang hukum asalnya terlarang atau haram dikerjakan sampai datang dalil yang menganjurkannya atau mewajibkannya.

(Catatan: Silahkan merujuk kepada buku tulisan Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat yang berjudul “Risalah Ilmiyyah Dalam Mengenal Iqtishaadiyyah Islamiyyah (Ekonomi Islam)” cetakan pertama halaman 85).

Dari uraian di atas dapat kita ambil pelajaran:

  1. Seseorang tidak boleh mengharamkan sesuatu tanpa dalil. Seseorang yang mengharamkan sesuatu, baik berupa perkataan, perbuatan, benda dan lainnya, maka dia harus mendatangkan dalil (landasan) yang berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
  2. Ibadah yang kita lakukan adalah ibadah yang diperintahkan atau disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh kita membuat berbagai macam bentuk ibadah sesuai kehendak kita, karena ibadah harus ada dasarnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Seseorang yang melakukan ibadah harus mendatangkan dalil (landasan) dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Penulis: Abu Aslam al-Minangkabawi

(Artikel situs -muslimsumbar.wordpress.com-)

Iklan

Posted on November 29, 2011, in MANHAJ and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: