AGAMA SYI’AH, PENYEBAB KEMUNDURAN UMAT

Aqidah Ahlus Sunnah

Aqidah Ahlus Sunnah

Abad kelima hijriah, yang merupakan batas pemisah antara dua zaman yaitu masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam -masa yang dipenuhi generasi terbaik- dengan masa kejumudan dan permulaan kemunduran yang mengalahkan umat di masa-masa belakangan. Padahal sebelumnya ahli sunnah mengalahkan ahli bid’ah dan hawa nafsu, di mana ilmu keislaman secara umum dan ilmu-ilmu Sunnah Nabi secara khusus tumbuh dan berkembang pesat sampai pertengahan abad keempat. Mulailah pada saat itu ahli bid’ah menguasai perkara umat, karena ketika itu Baghdad dikuasai oleh Banu Buwaih ar-Rafidhah (Syi’ah). Sedangkan Afrika Utara, Mesir, Syam, dan Hijaz dikuasai oleh Ubaidiyyun al-Bathiniyyun, dan Yaman dikuasai oleh Banu Rasul al-Isma’iliyah. Ketika itu ahli bid’ah dan hawa nafsu mengangkat kepalanya dan keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka menjadi penunjuk bagi para penguasa, dan mereka mempersempit ruang gerak Ahlus Sunnah (pembela kebenaran) dan menyiksa mereka. Dan fitnah Basasiri (W. 451 H) di Baghdad dan tindakan Asya’irah dan kaum Sufi yang dipimpin Ibnu al-Qusyairi (W. 514 H) mencerai beraikan Ahlus Sunnah (Ahlul Haq). Orang-orang sesat ini menyiksa para ulama dan menjauhkan ulama dari kepemimpinan umat. Oleh karena itu, kebodohan tersebar dan kerusakan merajalela.

Oleh karena itu, al-Hafizh adz-Dzahabi berkata di akhir tingkatan kesembilan dalam Risalah Dzikr Man Yu’tamad Qauluhu fi al-Jarh wa at-Ta’dil, “Dan semenjak masa inilah, mulai berkuranglah penghafalan hadits, dan perhatian terhadap atsar mulai sedikit. Para ulama condong untuk taqlid, sedangkan aliran Syiah, Mu’tazilah dan bid’ah muncul di Irak karena penguasaan keluarga Buwaih, sedangkan di Mesir, Syam dan Maghrib disebabkan karena penguasaan Bani Ubaid al-Bathiniyah.”

Kemudian adz-Dzahabi berkata di akhir tingkatan ke sepuluh, “Dan sunnah berkibar pada Daulah di Andalusia dan Khurasan, dan sunnah berkurang dan melemah di Mesir, Syam, Maghrib dan Irak. Tidaklah hal tersebut melainkan karena munculnya daulah Syi’ah dan Ubaidillah al-Bathiniyah. Maka kepada Allah lah semua urusan diserahkan.”

Sungguh abad kelima benar-benar merupakan awal masa kebekuan ilmiah dan dekadensi pemikiran umat Islam, sehingga musuh-musuh mereka dari kalangan orang Yahudi, Nasrani dan Majusi menguasai mereka melalui antek-antek mereka dari kalangan ahli bid’ah yang menggerogoti tubuh umat ini sebagaimana rayap menggerogoti akar pohon hingga roboh seketika. Dan tidak ada yang paling menunjukkan (secara tegas) kepada penggerogotan itu daripada sikap antek-antek itu yang sangat terang-terangan dan tanpa malu-malu membela tuan majikan mereka dari kalangan Nasrani penyembah salib, yaitu ketika mereka menghancurkan negeri-negeri Islam di abad tersebut. Mereka telah mempersiapkan kehancuran tersebut dengan menyebarkan kebodohan dan kerusakan pada umat ini. Hal itu dengan menjauhkan ulama sunnah yang mukhlis (ikhlash) dari mengatur umat dan menerangkan kepada mereka ilmu yang benar.

Demikianlah di setiap masa, orang-orang sesat dan menyimpang tidak memberikan kesempatan kepada umat ini melihat cahaya kebenaran di tangan ulama yang ikhlash, karena hal itu akan bisa menyadarkan umat, siapa sebenarnya musuh-musuh mereka, dan memperingatkan umat dari (serangan) mereka, agar umat Islam bisa menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, kemudian umat bisa mengalahkan ahli kekejian dan kerusakan.1

Faidah:

  1. Untuk mengembalikan kejayaan Islam adalah dengan cara meningkatkan keilmuan dalam masalah agama dan meningkatkan amal shalih.
  2. Musuh-musuh Islam tidak henti-hentinya menyebarkan kebodohan dan kerusakan di tengah umat islam. Untuk menangkal serangan musuh-musuh Islam ini hendaklah kaum muslimin bersemangat dalam mempelajari agamanya dan meningkatkan amal shalih mereka.
  3. Ahli bid’ah adalah penyebab kerusakan umat.
  4. Bahayanya Agama Syi’ah, karena termasuk salah satu penyebab kemunduran umat Islam.
  5. Musuh-musuh Islam merusak umat Islam dengan menjauhkan mereka dari Ulama. Oleh sebab itu umat Islam harus kembali kepada para Ulama dan mengambil manfaat ilmu dari mereka.
  6. Dengan kembalinya umat kepada para Ulama maka kejayaan Islam akan kembali.
  7. Hendaklah kaum muslimin berhati-hati dari ahli bid’ah serta orang-orang munafiq yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran.
  8. Kaum muslimin harus berhati-hati dari tokoh penyesat umat yang berkeliaran di antara mereka, seperti Ulil Abshar Abdala dan antek-anteknya yang tergabung dalam JIL (Jaringan Iblis).
  9. Berhati-hati dari media penyesat umat yang memaparkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti memamerkan wanita-wanita yang buka aurat, mengadakan ceramah-ceramah yang diisi oleh penceramah yang bodoh (jahil) dan penyesat umat, dan mengundang tokoh-tokoh penyesat umat sebagai narasumber. Media sesat itu dapat berupa koran, majalah, stasiun televisi, situs internet, dan lain-lain.

Penyusun: Abu Aslam bin Syahmir bin Marbawi al-Minangkabawi

Keterangan:

  1. Silahkan merujuk kepada kitab “Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyah” karya Dr. Muhammad bin Mathar az-Zahrani. Edisi Bahasa Indonesia, “Ensiklopedia Kitab-Kitab Rujukan Hadits”. Silahkan lihat pada BAB IV, Pasal Kedua, Bagian Kedua, Pembahasan Tentang Kitab Syarh as-Sunnah karya al-Hafizh al-Baghawi, catatan kaki no. 3 halaman 192.

Posted on Januari 9, 2012, in FIRQAH, sejarah and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: