NASEHAT AHLI HADITS KEPADA KAUM MUSLIMIN

akhlak mulia

akhlak mulia

Siapakah ahli hadits yang dimaksud? Beliau adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Rahimahullah. Beliau berkata:

Tauhid ini telah kita pelajari, telah kita fahami dengan baik, serta telah kita realisasikan dalam akidah kita. Akan tetapi kesedihan telah memenuhi hatiku…, aku merasa bahwasanya kita telah tertimpa penyakit gurur (terpedaya) dengan diri sendiri tatkala kita telah sampai pada akidah ini serta perkara-perkara yang merupakan konsekuensi dari akidah ini yang telah kita ketahui bersama seperti beramal dengan al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah dan tidak berhukum kepada selain al-Kitab (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kita telah melaksanakan hal ini yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim -yaitu pemahaman yang benar terhadap tauhid dan beramal dengan al-Kitab dan as-Sunnah- yang berkaitan dengan fikih yang di mana kaum muslimin telah terpecah menjadi beragam madzhab dan telah menempuh jalan yang berbeda-beda seiring dengan berjalannya waktu yang panjang selama bertahun-tahun.

Akan tetapi nampaknya -dan inilah yang telah aku ulang-ulang dalam banyak pengajian- bahwasanya dunia Islam ini -dan termasuk di dalamnya adalah para salafiyin sendiri- telah lalai dari sisi-sisi yang sangat penting dari ajaran Islam yang telah kita jadikan sebagai pola pikir kita secara umum dan mencakup seluruh sisi kehidupan. Di antara sisi penting tersebut adalah akhlak yang mulia dan istiqamah dalam menempuh jalan.

Banyak dari kita yang tidak perduli dengan sisi ini -yaitu memperbaiki akhlak dan memperindah budi pekerti- padahal kita semua membaca dalam kitab-kitab sunnah yang shahih sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya seseorang dengan akhlaknya yang mulia mencapai derajat orang yang begadang (karena shalat malam) dan orang yang kehausan di siang yang panas (karena puasa)1.”

Kita juga membaca dalam al-Qur’an al-Karim bahwasanya bukanlah termasuk akhlak Islam adanya perselisihan di antara kaum muslimin -dan secara khusus adalah kita yaitu di antara para salafiyin- hanya karena perkara-perkara yang semestinya tidak sampai menimbulkan perselisihan dan pertikaian. Kita membaca firman Allah tentang hal ini: “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.” (QS. Al-Anfaal: 46).

(Diterjemahkan dari Silsilah Nuur ‘ala ad-Darb, kaset no 23)2.

Faedah:

  • Perhatian Syariat Islam terhadap akhlak yang mulia.
  • Perhatian dan kerisauan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani terhadap umat Islam.
  • Perhatian Syaikh al-Albani terhadap akidah dan akhlak Islam.
  • Besarnya keutamaan akhlak yang mulia.
  • Syariat Islam memerintahkan kaum muslimin bersatu dan melarang dari pertikaian, perselisihan dan berpecah belah.

Penyusun: Abu Aslam bin Syahmir al-Minangkabawi

Keterangan:

  1. As-Silsilah Ash-Shahihah no. 794. Silahkan lihat buku “Dari Madinah Hingga Ke Radio Rodja” karya Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda, halaman 214.
  2. Silahkan lihat buku “Dari Madinah Hingga Ke Radio Rodja” karya Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda, halaman 213-215.

Posted on Januari 31, 2012, in AKHLAQ and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: