BERCANDA DENGAN AHLI TAFSIR

pemandangan

pemandangan

Siapakah ahli tafsir yang dimaksud? Beliau adalah Syaikh Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di. Syaikh Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di adalah guru dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahumallah.

Berikut akan kami bawakan kisah candaan yang melibatkan Syaikh Abdurrahman bin Nasir as-Sa’di. Kisah ini diceritakan oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr Hafizhahumallah. Syaikh Abdurrazzaq banyak mengetahui cerita tentang Syaikh as-Sa’di karena tesis beliau tatkala di S2 berkenaan dengan karya-karya tulis Syaikh as-Sa’di1.

Berikut ini kisahnya:

Suatu saat, istri Syaikh as-Sa’di pulang dari safar setelah beberapa lama berpisah dari Syaikh as-Sa’di karena safar tersebut. Syaikh as-Sa’di terbiasa menggunakan jam beker untuk membantu beliau bangun shalat malam. Namun, malam hari di mana istri beliau pulang dari safar itu, rupanya ada seorang anak kecil di antara keluarga Syaikh yang memainkan jam beker tersebut. Walhasil, keesokan harinya saat shalat Shubuh, Syaikh as-Sa’di tidak nampak di masjid. Padahal beliau adalah imam masjid.

Siangnya, Syaikh as-Sa’di mengimami shalat Zhuhur. Selepas shalat, beliau memberi wejangan kepada para jama’ah masjid. Setelah selesai, tiba-tiba ada seorang hadirin yang bertanya, “Ya Syaikh, mengapa Syaikh tidak terlihat saat shalat Shubuh? Apakah karena istri Syaikh baru pulang dari safar?2

Mendengar celetukan orang tersebut, para hadirin tertawa. Kemudian, Syaikh pun tersenyum, lantas beliau memanggil orang tadi kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sejumlah uang, lantas diberikan kepada orang itu, seraya berkata, “Ini hadiah buat engkau karena hari ini engkau memasukkan rasa gembira dalam hati para jama’ah.”

Mendengar perkataan Syaikh, para jama’ah kembali tertawa.

(Silahkan lihat buku “Dari Madinah Hingga Ke Radio Rodja” karya Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda, halaman 80-81).

Faedah:

Rasulullah bersabda: “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah memberikan rasa gembira pada hati seorang muslim, atau mengangkat kesulitan yang dihadapinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya3.”

Penyusun: Abu Aslam bin Syahmir

Keterangan:

  1. Sebagaimana termaktub dalam buku “Dari Madinah Hingga Ke Radio Rodja” karya Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda, halaman 80.
  2. Maksudnya adalah ketika sepasang suami istri telah lama berpisah maka akan timbul kerinduan. Sehingga ketika bertemu timbullah kebahagiaan dan terjadilah apa yang selayaknya terjadi bagi sepasang suami istri.
  3. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 906. Silahkan lihat buku “Dari Madinah Hingga Ke Radio Rodja” karya Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda, halaman 78.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Follow: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Posted on Februari 2, 2012, in AKHLAQ and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Masya Allah, Syaikh As Sa’di rahimahullah…

    afwan akh, bkan kah Syaikh Abdurrazzaq msih hidup??
    alangkah baiknya kalau kita katakan Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin hafizhahumallah….

    afwan…barakallahu fiikum…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: