MAKAR ORANG SYI’AH TERHADAP UMAT ISLAM: AN-NUSHAIR AT-THUSI DAN IBNU AL-ALQAMI BEKERJA SAMA DENGAN PASUKAN MONGOL PENYEMBAH BERHALA

pedang

pedang

Beginilah syi’ah sepanjang zaman, baik pada zaman kita maupun pada zaman sebelum kita. Sifat kejam melekat pada diri mereka. Mereka kejam dan membenci muslim Ahli Sunnah (orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi). Pada masa kita, telah terpapar di depan kita kekejaman mereka dan tingkah jelek mereka. Sebut saja kekejaman mereka di Suriah.

Ternyata kekejaman dan makar mereka telah dimulai sejak zaman dahulu. Kami persilahkan pembaca merenungkan apa yang kami paparkan di bawah ini tentang kelicikan agama syi’ah pada masa sebelum kita.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Orang-orang Rafidhah telah membantu Tartar (pasukan Tartar) saat memerangi negara-negara Islam (Majmu’ al-Fatawa 35/3510)1.

Tokoh ahli filsafat sekaligus ulama syi’ah yang bernama An-Nushair At-Thusi sangat lihai dalam merangkai bait-bait syair guna menjilat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tashim. Akan tetapi, tidak berapa lama ia berbalik.

Pada tahun 655 H ia bersekongkol melawan sang khalifah dan menyegerakan runtuhnya kekuasaan umat Islam di kota Baghdad. Ia dengan cepat berada di barisan terdepan di antara iring-iringan pasukan pembunuh berdarah dingin Holako Khan! Ia ikut serta menyaksikan pemenggalan leher-leher kaum muslimin dan muslimat, muda dan tua!

Ia juga rela menyaksikan karya-karya ilmiah umat Islam dilarung di sungai Dijlah (Tigris) hingga dalam beberapa hari air sungai tersebut berwarna hitam karena tinta kitab-kitab manuskrip.

Akhirnya, sirnalah berbagai peninggalan sejarah Islam yang mencakup sejarah, adab, bahasa, syair, dan filsafat, khususnya ilmu-ilmu syariat dan karya-karya tulis para imam terdahulu, para generasi terkemuka. Peninggalan ilmiah yang hingga kala itu masih banyak ditemukan, akhirnya juga ikut hancur bersama kehancuran peninggalan-peninggalan lainnya.

Suatu keharusan bagi kita untuk menunjukkan di sini bahwa cucu Holako Khan, yaitu Sultan Gazan, tatkala datang pada tahun 699 H untuk menguasai negeri Syam, saat itu yang menjabat sebagai perdana menterinya ialah cucu pembela kekufuran At-Thusi yang bernama Ashiluddin At-Thusi. Gazan melakukan berbagai kekejaman di kota Damaskus, memperkosa, menumpahkan darah, dan mencuri kitab-kitab ilmu.

Akhirnya, Allah Ta’ala memudahkan Imam Mujahid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memimpin umat Islam melawan diktator ini sampai Allah memberikan kemenangan kepada beliau pada peperangan Syaqhab yang masyhur yang terjadi pada tahun 701 H.

Dua orang sahabat syaikh syi’ah Nushair At-Thusi, yaitu perdana menteri syi’ah yang bernama Muhammad bin Ahmad al-Alqami dan Abdul Hamid bin Abi al-Hadid, juga ikut serta dalam pengkhianatan besar ini. Abdul Hamid adalah seorang penulis buku yang berpaham mu’tazilah. Ia diangkat menjadi orang kepercayaan Ibnu al-Alqami karena ia sangat ekstrim dalam memegang paham syi’ah. Sepanjang hidupnya, ia senantiasa memusuhi sahabat-sahabat Rasulullah. Ia memenuhi buku karyanya, Syarah Kitab Nahjul Balaghah dengan berbagai kedustaan yang telah mencoreng muka sejarah Islam.

Al-‘Allamah Abdullah bin al-Hushain as-Suwaidi telah menulis bantahan terhadap Ibnu Abi al-Hadid ini. Beliau menulis sebuah buku dengan judul ash-Sharim al-Hadid Fi ar-Rad ‘Ala Ibni Abi al-Hadid setebal 1000 halaman sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Zahid al-Kautsari dalam sebagian makalahnya.

Ibnu al-Alqami benar-benar membalas kelembutan dan kedermawanan Khalifah al-Mu’tashim, yang telah memilihnya menjadi perdana menteri, dengan pengkhianatan. Ia telah dikuasai oleh tabiat aslinya, yaitu pengkhianat dan jiwa hina, sehingga ia sampai hati membalas budi baik orang lain dengan kenistaan.

Hingga saat ini, sekte syi’ah tak henti-hentinya menampakkan rasa gembira dan girang dengan permusuhan yang berhasil mereka lancarkan terhadap umat Islam ketika terjadi petaka Holako Khan.

Bagi Anda yang hendak mengetahui hal ini, silahkan membaca biografi an-Nushair at-Thusi yang ada dalam setiap buku-buku biografi mereka. Buku biografi terbaru yang mereka tulis ialah buku Raudhat al-Jannat karya al-Khunisari. Buku ini dipenuhi dengan pujian kepada para pengkhianat dan ungkapan kegembiraan atas apa yang menimpa umat Islam kala itu.

Pujian ini sebagai pelampiasan dendam terhadap para korban petaka itu, baik para tokoh atau masyarakat awam. Buku ini juga sarat dengan ungkapan kegembiraan atas pembantaian yang menimpa kaum muslimin dan muslimat, anak kecil dan orang-orang tua renta. Musuh paling berbahaya dan binatang paling buas pun pasti merasa malu untuk menampakkan kegembiraan atas petaka tersebut.

Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir Marbawi.

Keterangan:

  1. Silahkan lihat buku “Menyingkap Hakikat Aqidah Syi’ah” karya Syaikh Abdullah bin Muhammad, terbitan Jaringan Pembelaan Terhadap Sunnah halaman 41, bagian catatan kaki.

Catatan: Tulisan ini banyak mengambi manfaat dari buku “Mungkinkah Syi’ah & Sunnah Bersatu?” karya Syaikh Muhibbuddin al-Khatib, terbitan Pustaka Muslim, halaman 33-35. Buku ini terjemahan dari kitab “Al-Khuthuth al-‘Aridhah lil Usus Allati Qama ‘Alaiha Din asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna’asyariah”.

Posted on Maret 17, 2012, in FIRQAH and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: