JANGAN SALAH MEMAHAMI LAA ILAAHA ILLALLAH!!!

tauhid

tauhid

Dua kalimat syahadah merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal.1

Makna Kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Laa ilaaha illallah)2

Makna dari kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah: “La ma’buuda bi haqqin illallah” yang artinya Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.

Ada beberapa penafsiran yang salah tenntang makna “Laa ilaaha illallah”, dan kesalahan tersebut telah menyebar luas. Di antara kesalahan tersebut adalah:3

  1. Menafsirkan kalimat “Laa ilaaha illallah” dengan “La ma’buuda illallah” yang artinya tidak ada yang diibadahi kecuali Allah, padahal makna tersebut rancu karena jika demikian, maka setiap yang diibadahi, baik benar maupun salah, berarti Allah.
  2. Menafsirkan kalimat “Laa ilaaha illallah” dengan “Laa khaaliqa illallah” yang artinya tidak ada pencipta kecuali Allah, padahal makna tersebut merupakan sebagian dari makna kalimat “Laa ilaaha illallah” dan ini masih berupa Tauhid Rububiyyah saja, sehingga belum cukup. Inilah yang diyakini juga oleh orang-orang musyrik. Orang-orang musyrik meyakini bahwa Allah yang menciptakan mereka, namun mereka tetap menyembah dan beribdah kepada selain Allah.
  3. Menafsirkan kalimat “Laa ilaaha illallah” dengan “Laa haakimiyyata illallah” yang artinya tidak ada hakim (penguasa) kecuali Allah, pengertian ini pun tidak mencukupi karena apabila mengesakan Allah hanya dengan pengakuan atas sifat Allah Yang Maha Penguasa saja namun masih berdo’a kepada selain-Nya atau menyelewengkan tujuan ibadah kepada sesuatu selain-Nya, maka hal ini belum termasuk defenisi yang benar.
  4. Ada juga yang menafsirkan “Laa ilaaha illallah” dengan “Tiada Tuhan melainkan Tuhan”. Ini merupakan tafsiran Nurchalis Majid yang sesat yang menyesatkan. Nurchalis Majid ini satu sekte dengan Ulil Abshar, yaitu sekte JIL (Jaringan Iblis).
  5. Ada juga yang menafsirkan “Laa ilaaha illallah” dengan mengatakan “Laa ilaaha illallah” adalah “mengeluarkan kebesaran makhluk kemudian memasukkan kebesaran Allah” sebagaimana yang kami dengar dari anggota jama’ah tabligh. Tidak didapatkan pada kitab aqidah penjelasan makna seperti ini. Dari manakah anggota jama’ah tabligh memperoleh tafsiran seperti ini?! Apakah berasal dari kebodohan mereka?!

Rukun Kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Laa ilaaha illallah)4

Kalimat “Laa ilaaha illallah” memiliki 2 rukun, yaitu:

  1. An-Nafyu, yaitu mengingkari (menafikan) semua yang disembah selain Allah Ta’ala.
  2. Al-Itsbat, yaitu menetapkan ibadah hanya kepada Allah saja.

Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“… Siapa saja ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah, dan jauhilah thaghut’…” (QS. An-Nahl: 36).

Allah telah mewajibkan kepada setiap hamba-Nya untuk mengingkari thaghut dan hanya beriman kepada Allah saja.5

Ibnul Qayyim berkata, “Thaghut, ialah segala sesuatu yang diperlakukan seorang hamba secara melampaui batas, baik berupa sesuatu yang disembah, diikuti, atau yang ditaati”6

Thaghut itu banyak macamnya. Adapun pembesarnya ada lima:7

  1. Iblis yang dilaknat Allah.
  2. Orang yang ridha (rela) untuk disembah.
  3. Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya.
  4. Orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang ghaib.
  5. Orang yang berhukum dengan selain hukum yang telah diturunkan Allah.

 

Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir Marbawi

Footnote:

  1. Lihat buku “Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” (hlm 132) oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
  2. Lihat buku “Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” (hlm 132) oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
  3. Lihat Aqiidatut Tauhiid (hlm. 39-40) oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan. Lihat juga buku “Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” (hlm 132-133) oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
  4. Lihat buku “Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” (hlm 142) oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
  5. Lihat Matan Tiga Landasan Utama oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  6. Lihat Matan Tiga Landasan Utama oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
  7. Lihat Matan Tiga Landasan Utama oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Iklan

Posted on April 21, 2012, in AQIDAH and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: