TASHAWWUF & SHUFI

Tashawwuf dan Sufi

Tashawwuf dan Sufi

Penamaan tashawwuf dan shufi tidak dikenal pada awal Islam. Penamaan ini terkenal (ada) setelah itu atau masuk ke dalam Islam dari ajaran agama dan keyakinan selain Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa awal munculnya shufiyah adalah dari Bashrah di Irak.1

Dr. Shabir Tha’imah memberi komentar dalam kitabnya, ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan: “Jelas bahwa Tashawwuf dipengaruhi oleh kehidupan para pendeta nasrani, mereka suka memakai pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara, dan ini banyak sekali. Islam memutuskan kebiasaan ini ketika ia membebaskan setiap negeri dengan tauhid. Islam memberikan pengaruh yang baik terhadap kehidupan dan memperbaiki tata cara ibadah yang salah dari orang-orang sebelum Islam.”2

Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir (wafat th. 1407 H) berkata di dalam bukunya at-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir: “Apabila kita memperhatikan dengan teliti tentang ajaran shufi yang pertama dan terakhir (belakangan) serta pendapat-pendapat yang dinukil dan diakui oleh mereka di dalam kitab-kitab shufi, baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat dengan jelas perbedaan yang jauh antara shufi dengan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Begitu juga kita tidak pernah melihat adanya bibit shufi di dalam perjalanan hidup Nabi dan para sahabat beliau, yang mereka adalah (sebaik-baik) pilihan Allah dari para hamba-Nya (setelah Para Nabi dan Rasul). Sebaliknya, kita bisa melihat bahwa ajaran tashawwuf diambil para pendeta kristen, brahmana, hindu, yahudi, serta kezuhudan budha, konsep asy-syu’ubi di Iran yang merupakan majusi di periode awal kaum shufi, ghanusiyah, Yunani, dan pemikiran neo-platoisme, yang dilakukan oleh orang-orang shufi belakangan.”3

Syaikh Abdurrahman al-Wakil berkata di dalam kitabnya, Mashra’ut Tashawwuf: “Sesungguhnya tashawwuf itu adalah tipuan (makar) paling hina dan tercela. Syaithan telah membuat hamba Allah tertipu dengannya dan memerangi Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya tashawwuf adalah (sebagai) kedok majusi agar ia terlihat sebagai seorang yang ahli ibadah, bahkan juga kedok semua musuh agama Islam ini. Bila diteliti lebih mendalam, akan ditemui bahwa di dalam ajaran shufi terdapat ajaran brahmanisme, budhisme, zoroasterisme, platoisme, yahudi, nasrani dan paganisme.”4

Ajarannya dinamakan tashawwuf, sedang orang yang menganut dan memeluknya dinamakan shufi. Tashawwuf dan pemeluknya termasuk ahlul bid’ah yang sesat dan menyesatkan. Tashawwuf dibina atas dasar kebodohan di atas kebodohan, sebab hakikat ajaran tashawwuf adalah kebodohan.

Imam asy-Syafi’i berkata, “Kalau seorang belajar tashawwuf di pagi hari maka pada waktu siang dia telah menjadi orang yang paling dungu.”5

Di antara kesesatan tashawwuf:6

1. Mereka menjadikan kubur-kubur wali, orang shalih atau yang lainnya sebagai tempat ibadah. Mereka mengajak manusia untuk menyembah kubur, beribadah di sisi kubur, bertawassul kepada penghuni kubur, bertabarruk kepada mereka, minta syafaat kepada mereka, dan yang lainnya dari perbuatan syirik.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maa’idah: 72).

2. Secara umum, dalam beragama dan beribadah mereka tidak merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dan tidak mencontoh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Yang menjadi rujukan mereka adalah perasaan mereka, ajaran guru-guru mereka berupa tarekat-tarekat yang bid’ah, berbagai dzikir dan wirid yang bid’ah, bahkan mereka juga berdalil dengan cerita-cerita, mimpi-mimpi, dan hadits-hadits palsu untuk membenarkan ajarannya. Itu semua sebagai ganti dari berdalil dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.7

Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia bersiap-siap mengambil tempat di neraka.” (Hadits Mutawatir. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, serta lainnya).8

Rasulullah bersabda, “Siapa saja menceritakan hadits dariku dan hadits tersebut diketahui dusta maka dia adalah salah satu pendusta.” (HR. Muslim).9

3. Mereka berlebih-lebihan terhadap para wali dan guru-guru mereka. Ini bertentangan dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.10

4. Mereka bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah melalui nyanyian, tarian, memukul rebana, dan tepuk tangan. Mereka menganggap hal ini sebagai bentuk ibadah kepada Allah.11

5. Membagi manusia menjadi empat tingkatan: syari’at, tarekat, hakikat, ma’rifat. Menurut mereka, apabila seseorang telah mencapai derajat ma’rifat maka orang itu bebas dari kewajiban syari’at dan tidak perlu lagi shalat, puasa, dan lainnya atau tidak perlu lagi menjauhi larangan seperti zina, minum khamr, dan lain-lain!?12 Hanya kepada Allah kita adukan kebodohan kelompok ini!!

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yg buruk.” (QS. Al-Isra’: 32).

6. Membuat-buat dan menetapkan berbagai macam ibadah bid’ah seperti shalat, dzikir, dan lainnya yang tidak ada asal-usulnya dalam agama Islam.13

Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang mengada-adakan hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).14

7.Berdzikir berjama’ah dengan suara keras dan dengan satu suara.

8. Berdzikir dengan lafazh “Allah, Allah, Allah…” atau “Huwa, Huwa, Huwa…” atau “Hu, Hu, Hu…”.15

9. Ghuluw kepada guru-guru mereka sampai mereka sujud dan menyembah guru-guru mereka yang telah mati.

10. Dan kesesatan lainnya.

Ada beberapa tarekat shufi yang terkenal di antaranya: Rifa’iyyah, Syadziliyah, Qadiriyah, at-Tijaniyyah, dan yang lainnya.1Di Sumbar (Sumatera Barat) terdapat tarekat Naqsyabandiyah.

 

Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir Marbawi

Footnote:

  1. Majmuu’ Fataawaa (XI/6). Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 523).
  2. Ash-Shuufiyyah Mu’taqadan wa Maslakan (hlm. 17), dikutip dari Haqiiqatuth Tashawwuf karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan (hlm. 18-19). Lihat buku Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 31-32).
  3. At-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir (hlm. 50), cet I/Idaarah Turjumanis Sunnah, Lahore-Pakistan, th. 1406 H. Lihat buku Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 32).
  4. Mashra’ut Tashawwuf (hlm. 10), cet I/Riyaasah Idaaratil Buhuuts al-Ilmiyyah wal Ifta’, th. 1414 H. Lihat buku Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 33).
  5. Manaqib al-Imam asy-Syafi’i (II/207) dinukil dari Manhajul Imam asy-Syafi’i fii Itsbaatil Aqiidah (II/503). Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 524).
  6. Silahkan baca selengkapnya buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 524).
  7. Haqiiqatut Tashawwuf (hlm. 25-26) karya Syaikh Shalih Fauzan. Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 525).
  8. Fathul Bari (I/203). Syarh Shahiih Muslim (I/28). Lihat buku Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer, karya Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi (hlm. 19). Lihat buku Hadits Lemah & Palsu Yang Populer Di Indonesia, karya Ustadz Ahmad Sabiq (hlm. 16).
  9. Lihat buku Koreksi Hadits-Hadits Dha’if Populer, karya Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi (hlm. 28).
  10. Haqiiqatut Tashawwuf (hlm. 31) karya Syaikh Shalih Fauzan. Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 525).
  11. Haqiiqatut Tashawwuf (hlm. 38) karya Syaikh Shalih Fauzan. Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 526).
  12. At-Tashawwuf al-Mansya’ wal Mashaadir (hlm. 260-275). Haqiiqatut Tashawwuf (hlm. 43) karya Syaikh Shalih Fauzan. Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 526).
  13. Al-Fikhrush Shuufi (hlm. 61). Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 526).
  14. Shahih al-Bukhari, kitab “ash-Shulhi”, Bab “Idzash Thalahuu ‘ala Shulhi Jaurin” (no. 2697). Lihat buku Syarah Arba’in an-Nawawi, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 125).
  15. Haqiiqatut Tashawwuf (hlm. 28-31). Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 526).
  16. Diraasaat fit Tashawwuf (hlm. 215-280). Lihat buku Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (hlm. 527).
Iklan

Posted on Mei 10, 2012, in FIRQAH and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. mau lihat orang sufi beribadah ????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: