MENGGABUNGKAN BEKERJA DENGAN MENUNTUT ILMU: PELAJARAN DARI CERAMAH SYAIKH DR. SYADI MUHAMMAD SALIM

belajar dan bekerja

belajar dan bekerja

1. Pendahuluan

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan Salam atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Berikut ini adalah faedah yang kami peroleh dari ceramah Syaikh Dr. Syadi Muhammad Salim (Hafizhahullah) di Masjid Nurul Islam, Ulak Karang Padang, Sumatera Barat. Ceramah ini berlangsung pada tanggal 4 Rajab 1433 H (25 Mei 2012). Ceramah Syaikh Syadi diterjemahkan oleh Ustadz Abul Abbas Thabrani (Hafizhahullah).

Syaikh Syadi menjelaskan bagaimana cara menggabungkan antara bekerja untuk memenuhi kebutuhan dengan menuntut ilmu (belajar ilmu agama).1 Beliau juga memberikan contoh para ulama yang menggabungkan antara bekerja dengan menuntut ilmu.

Metode kami dalam menyusun tulisan ini adalah mendengar rekaman video ceramah Syaikh Syadi, kemudian menulis faedah (pelajaran) dari rekaman tersebut. Kami menambahkan catatan kaki untuk menambah sedikit faedah –insya Allah-.

Kami berharap tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Terutama bagi Saudara-Saudari kami yang belum mendengar ceramah ini yang disebabkan kesibukan mereka, seperti bekerja, berdagang, bisnis, kuliah, pekerjaan rumah dan lain sebagainya.

Semoga Allah memberikan kemudahan dan menjadikan amal kita adalah amalan yang ikhlash.

2. Pembahasan

Di antara pelajaran yang didapatkan dari ceramah  Syaikh Syadi adalah:2

Bekerja tidak menghalangi menuntut ilmu. Suri tauladan kita yaitu para sahabat Nabi, tabi’in dan para ulama yang terdahulu mampu mengabungkan bekerja dengan menuntut ilmu. Mereka bisa menggabungkan antara menuntut ilmu, menghafal al-Qur’an, menghafal hadits, dengan bekerja mencari nafkah.

Abu Bakar ash-Shiddiq (Radhiyallahu ‘anhu) bisa menggabungkan antara berdagang dengan menuntut ilmu. Beliau adalah orang yang dekat dengan Rasulullah. Beliau adalah seorang saudagar yang kaya dan tetap menuntut ilmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.

Utsman bin Affan (Radhiyallahu ‘anhu) seorang pedagang yang kaya dengan kekayaan yang melimpah. Namun demikian beliau tidak lupa menuntut ilmu kepada Rasulullah dan menghafal ilmu-ilmu yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.

Abdurrahman bin Auf (Radhiyallahu ‘anhu) sukses dalam bekerja (berdagang), namun tidak lupa menuntut ilmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.

Para sahabat Rasulullah banyak yang berhasil dalam bekerja (berdagang), tetapi mereka masih menuntut ilmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.

Para sahabat Rasulullah memiliki semangat dalam menuntut ilmu. Mereka memiliki metode bermacam-macam dalam menggabungkan antara bekerja dengan menuntut ilmu. Setiap sahabat memilih metode yang cocok bagi mereka.

Umar bin Khattab (Radhiyallahu ‘anhu) memiliki semangat dalam menuntut ilmu. Beliau tidak mau kehilangan ilmu ketika bekerja. Maka beliau memiliki metode yaitu bergantian dengan tetangganya dalam menuntut ilmu. Jika Umar belajar kepada Rasulullah maka tetangganya bekerja. Jika Umar bekerja maka tetangganya belajar kepada Rasulullah. Jika tetangganya bekerja maka sepulang dari pekerjaannya dia belajar kepada Umar, yaitu Umar mengajarkan ilmu yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Begitu juga sebaliknya, jika Umar bekerja maka sepulang dari pekerjaannya dia belajar kepada tetangganya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah mengutus penghafal al-Qur’an ke suatu tempat. Para penghafal ini bekerja pada siang hari dan pada malam hari mereka mengajarkan al-Qur’an. Mereka pergi ke hutan mencari kayu untuk dijual di pasar. Beginilah mereka menggabungkan dakwah dengan bekerja.

Ulama setelah masa sahabat mengikuti metode sahabat dalam menggabungkan antara belajar dengan bekerja. Maka muncul ulama-ulama besar, akan tetapi mereka tetap menjadi orang yang sukses dalam bekerja.

Imam Abu Hanifah adalah seorang ulama fiqih, bersamaan dengan itu beliau tetap bekerja. Beliau memiliki perusahaan kain di rumahnya. Beliau menjadi orang yang kaya raya.

Imam Abdullah Ibnul Mubarak adalah Imam ahli hadits di negeri Khurasan. Beliau terkenal sebagai imam dalam masalah hadits, fiqih, wara’. Beliau adalah seorang pedagang.

Imam Ibnu Hubairah adalah seorang menteri di suatu kerajaan. Walaupun seorang menteri (yang biasanya sibuk) beliau tetap bersemangat menuntut ilmu sampai menjadi ulama. Beliau mendatangi ulama dan mengumpulkan kitab. Imam adz-Dzahabi mengatakan bahwa Imam Ibnu Hubairah bersemangat dalam mengumpulkan ilmu dan menulis. Kita mengetahui bahwa pada zaman kita, seorang menteri yang memiliki jabatan yang tinggi mereka lupa dengan ibadah dan menuntut ilmu. Akan tetapi Imam Ibnu Hubairah yang seorang menteri yang memiliki kedudukan tinggi tetap bersemangat dalam menuntut ilmu di tengah kesibukannya. Beliau menggabungkan antara menuntut ilmu dan bekerja.

Imam Hamzah bin Habib dikenal sebagai seorang imam dalam bacaan al-Qur’an. Pekerjaan beliau adalah berdagang minyak. Beliau membeli minyak di Kufah dan menjualnya di Mesir.

Imam Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi adalah seorang Imam dalam hadits. Beliau belajar di siang hari dan bekerja di malam hari. Beliau bekerja sebagai penulis naskah (tukang catat naskah). Di zaman dahulu mesin percetakan buku belum ada. Maka pada masa itu jika seseorang ingin sebuah buku, maka dicatat oleh tukang catat.

Imam al-Marwazi beliau adalah ulama madzhab Syafi’i dan memiliki tulisan yang banyak. Beliau bekerja sebagai tukang kunci (gembok).

Imam Nawawi adalah penulis kitab Riyadhush Shalihin. Seorang imam yang terkenal. Beliau bekerja membantu orang tuanya menjaga warung kecil.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani beliau adalah seorang ahli hadits pada zaman ini. Pada masa mudanya adalah seorang tukang kayu. Kemudian beliau bekerja sebagai tukang jam. Dan membuka toko perbaikan jam. Jika tidak ada pengunjung toko, maka beliau menyibukkan diri dengan belajar.

Ulama lainnya ada yang bekerja sebagai pembuat kain, tukang obat (bekerja di apotik), dan dokter.

Penyusun: Abu Aslam bin Syahmir Marbawi.

Footnote:

  1. Dalam masalah ini manusia terbagi menjadi tiga. Pertama, orang yang sibuk dengan bekerja dan terhalang dari belajar agama. Kedua, orang yang meninggalkan mencari nafkah dengan alasan sibuk menuntut ilmu sehingga menjadikan dirinya bergantung kepada orang lain, meminta-minta, menyusahkan orang lain. Ketiga adalah orang yang menggabungkan bekerja dan menuntut ilmu dan inilah yang terbaik. Allahu a’lam.
  2. Pembaca yang telah mendengar ceramah Syaikh akan menemukan perbedaan antara kata-kata yang terdapat pada terjemahan ceramah Syaikh dengan faedah yang kami tulis. Ketahuilah, kami tidak menyalin terjemahan perkataan Syaikh secara mendetail. Akan tetapi kami berusaha memindahkan faedah dari terjemahan ceramah Syaikh ke dalam bentuk tulisan tanpa mengubah maksud Syaikh. Jadi bisa dikataan kami memindahkan pelajaran yang diberikan Syaikh di ceramahnya ke dalam bentuk tulisan secara garis besar tanpa mengubah maksud Syaikh. Allahul Musta’an.

Posted on Juni 7, 2012, in AKHLAQ and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: