Orang Kafir pun Diberi Gelar ‘Wahhabi’

Gelar wahhabi pada zaman sekarang merupakan senjata empuk untuk mensifati seorang yang konsisten dengan agama Islam dan melanggar tradisi masyarakat yang menyimpang berupa kesyirikan, kebid’ahan, dan khurafat.

Mas’ud an-Nadawi berkata: “Termasuk kebohongan yang amat nyata terhadap dakwah Syaikhul Islam (Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah menggelarinya dengan Wahhabiyah. Orang-orang yang rakus dan memiliki tujuan berusaha dengan gelar ini untuk menetapkan bahwa Wahhabi adalah agama di luar Islam. Inggris, Turki dan Mesir telah berhasil menggambarkannya dengan gambaran yang menyeramkan, di mana setiap kali ada pergerakan Islam di dunia yang dipandang berbahaya bagi mereka, maka mereka mengaitkannya dengan Wahhabi.”1

Syaikh Ali Thanthawi menulis dalam sebuah bukunya2 bahwa “aqidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama’ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dengan dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi aqidah tauhid tersebut. Hal ini dilakukan karena mereka mengetahui bahwa aqidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.

Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah3 agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun mencap setiap muwahhid (orang yang bertauhid) yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahhabi.4

Syaikh Ali Thanthawi melanjutkan: “Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahhabi adalah nisbat kepada al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Asma’ul Husna.5

Namun apa pun kemauan musuh, Allah pasti akan mengangkat agama-Nya dan menyingkap tirai musuh-musuh yang berusaha melenyapkan cahaya-Nya.

Ahmad bin Hajar berkata: “Termasuk keajaiban takdir Allah, Allah membalik tujuan musuh-musuh dakwah, di mana asli tujuan mereka dengan menyematkan label wahhabi adalah untuk mencela mereka dan menggambarkan bahwa mereka adalah ahli bid’ah dan tidak cinta Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun gelar ini pada saat sekarang menjadi simbol bagi setiap orang yang mengajak kepada al-Qur’an dan Sunnah, menyeru untuk berpijak kepada dalil, menyeru tegaknya amar ma’ruf nahi munkar, melawan bid’ah dan khurafat, serta berpijak dengan madzhab salaf.”6

Oleh karenanya, Anda dapat menyaksikan sendiri bahwa setiap orang yang mengingkari kebid’ahan di masyarakat, dia akan disebut ‘wahhabi’. Jadi, gelar ini merupakan pujian dan simbol bagi setiap golongan yang mengikuti al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shalih, dan setiap orang yang mendakwahkan tauhid ibadah dan uluhiyah.7

Bahkan orang kafir beragama nasrani sempat dikatakan wahhabi. Sebagaimana yang diceritakan Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/153), bahwa seorang guru yang beragama nasrani di sekolah Damaskus pernah menceritakan tentang gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan kegigihannya dalam memberantas kesyirikan, kebid’ahan, dan khurafat yang sekilas guru tadi mendukungnya, maka sebagian muridnya berkata: “Tampaknya, guru kita ini wahhabi.”8

Allahu a’lam.

Selesai di Padang kota tercinta, pada pagi hari menjelang waktu shalat Shubuh, hari Senin tanggal 16 Syawwal 1433 H (3 September 2012).

Disusun oleh Abu Aslam Benny bin Syahmir bin Marbawi

Footnote:

  1. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, halaman 165. Meluruskan Sejarah Wahhabi, karya Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, halaman 83.
  2. Buku tentang “Silsilah Tokoh Sejarah”.
  3. Kaum Murtaziqah adalah orang-orang bayaran.
  4. Jalan Golongan Yang Selamat, karya Syaikh Muhammad bin Jmail Zainu, halaman 59.
  5. Jalan Golongan Yang Selamat, halaman 59
  6. Meluruskan Sejarah Wahhabi, karya Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, halaman 83-84.
  7. Meluruskan Sejarah Wahhabi, karya Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, halaman 84.
  8. Meluruskan Sejarah Wahhabi, karya Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi, halaman 84, lihat catatan kaki no 164.

Baca yang lainnya:

Budaya Pengkultusan Kuburan

Mengenal Ulama: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Celaan Ulama Terhadap Ilmu Kalam

Madu Dalam al-Qur’an dan as-Sunnah

Jangan Bersedih

Iklan

Posted on September 3, 2012, in BANTAHAN and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum wr wb. Wahai Abu Aslam, mengapa orang-orang yg mengaku Salafi dan Wahabi masih mengakui Nabi Isa as masih hidup di langit ? Bukankah itu tahayul alias khufarat.

    • Nabi Isa masih hidup dan akan turun di akhir zaman.
      Ini adalah keyakinan yang benar, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

      Siapa yang tidak meyakininya, maka ia adalah orang yang tersesat.

      Mudah-mudahan Allah memudahkan hambanya untuk menulis pembahasan tentang Nabi Isa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: