Betapa Mulianya Akhlak Teladan Kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah seorang yang berada pada ketinggian akhlak. Pada diri beliau terkumpul sifat-sifat terpuji yang tidak didapati pada selain beliau, karena Allah Ta’ala telah menjaga beliau dari celah sekecil apa pun yang dapat merendahkan perangai beliau. Hal itu sebagai anugerah Allah Ta’ala untuk membungkam mulut para musuh-musuhnya, orang-orang yang menghalangi dakwah beliau, dari mencibir dan mencacat sekecil apa pun terhadap akhlak beliau.

Dari masa kanak-kanak hingga wafatnya beliau tetap berada di atas akhlak yang mulia, jauh dari perangai yang dicela. Beliau adalah orang yang paling kuat akalnya, paling tinggi adabnya, sangat penyantun, paling sempurna kekuatan dan keberaniannya, paling jujur ucapannya, paling luas kasih sayang dan kelembutannya, dan paling tinggi derajat dan kedudukannya.

Setiap perangai baik yang dimiliki manusia maka beliau orang pertama yang telah bersifat dengannya. Dan setiap perangai jelek yang dibenci manusia maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya. Hal itu diakui baik oleh kawan maupun lawan beliau, sahabat maupun musuh beliau.1

Persaksian Orang-Orang Quraisy Tentang Akhlak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Tatkala orang-orang Quraisy selesai menegakkan bangunan Ka’bah sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka berselisih siapakah yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya, namun mereka sepakat yang berhak adalah orang pertama yang memasuki pintunya, ternyata yang pertama memasukinya adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka mereka pun senang melihatnya. Mereka katakan, “Telah datang seorang yang amanah, telah datang Muhammad.” Orang Quraisy menggelari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan gelar al-Amin karena mereka tahu bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang amanah.2

Padang Sumatera Barat, Ahad (Minggu) ba’da Maghrib 26 Dzulhijjah 1433 (11 November 2012).

Abu Aslam bin Syahmir

Footnote:

  1. Diambil dari tulisan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr yang diterjemahkan oleh Abu Faiz Sholahuddin al-Lampungi dalam majalah al-Furqon edisi 5 Th. Ke-12 Dzulhijjah 1433 (Sept-Okt 2012). Lihat halaman 44-45.
  2. Majalah al-Furqon edisi 5 Th. Ke-12 Dzulhijjah 1433 (Sept-Okt 2012). Lihat halaman 45.

Artikel Muslim Sumbar

Iklan

Posted on November 11, 2012, in AKHLAQ and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Takada yg bs nyaingin manusia biasa spt nb.gmana ya usaha kt berbwt baik dikit sj

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: