PENGKHIANATAN KRISTEN KATOLIK PORTUGIS

PisauBerikut ini kami akan memaparkan tentang sejarah pengkhianatan bangsa Portugis (Portugal) yang beragama kristen katolik, yang terjadi di Indonesia. Sejarah ini kami kutip dari buku Prof. Dr. Hamka (semoga Allah merahmatinya) yang berjudul “Dari Perbendaharaan Lama”1.

Prof. Dr. Hamka menulis:2

“Setelah bangsa Portugis berhasil menguasai Goa (India), dan merebut Malaka, kemudian dia meluaskan kekuasannya ke Maluku. Padahal sebelum bangsa Portugis masuk ke sana, Islam telah lebih dahulu datang. Dua bangsa yang berjasa menyiar dan menanamkan pengaruh Islam di Maluku, yaitu orang Melayu dari Malaka dan muballigh-muballigh dari Jawa Timur. Maka pertengahan abad keenam-belas itu, ketika Portugis meluaskan kuasanya, yang menjadi Sultan di Ternate adalah Sultan Khairun. Dan yang menjadi gubernur Portugis di sana ialah De Mesquita. Kedua-duanya adalah orang yang sama keras dan teguh mempertahankan agamanya.”3

Setelah Prof. Dr. Hamka menjelaskan tentang perselisihan yang terjadi antara Sultan Khairun dan Gubernur De Mesquita, kemudian Prof. Dr. Hamka melanjutkan:4

“Baginda5 telah bersiap hendak menyerang segala pertahanan orang Portugis. Tetapi satu perutusan6 dari pihak Portugis telah dapat membujuk Sultan supaya berdamai saja, dan hidup berdampingan secara aman sentosa di antara orang Islam di Ternate dengan orang Portugis. Sultan sudi menerima perdamaian itu. Lalu diikatlah janji tidak akan berperang lagi. Sumpah itu dikuatkan menurut agama masing-masing. Gubernur De Mesquita bersumpah dengan mengangkat kitab Injil dan Sultan Khairun bersumpah dengan mengangkat Kitab al-Qur’an7 (17 Februari 1570).

Sehari kemudian (18 Februari 1570), Sultan8 diundang oleh Gubernur De Mesquita mengadakan jamuan tanda persahabatan di dalam benteng Portugis. Oleh karena percaya pada janji yang telah disaksikan dengan al-Qur’an dan Injil, Sultan pun pergi ke benteng itu. Tetapi baru saja beliau masuk, baginda pun ditikam oleh seorang pengawal atas perintah Gubernur De Mesquita, dan mati pada saat itu juga. Karena memang ada fatwanya daripada “Paus Eugin IV” pada tahun 1444, tidaklah berdosa menurut agama Katholik jika perjanjian yang telah diikat, walaupun dengan bersaksikan Injil dan al-Qur’an, terhadap kaum Muslimin, dimungkiri! Lantaran fatwa inilah maka Pangeran Huynade dari Hongaria memungkiri janji yang telah dikuatkan dengan Injil dan al-Qur’an itu pula terhadap Sultan Murad Turki.”9

Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir Marbawi

Footnote:

  1. Diterbitkan oleh Pustaka Panji Mas Jakarta. Cetakan III tahun 1996. Halaman 58-61.
  2. Kami melakukan sedikit editan.
  3. Sampai di sini tulisan Prof. Dr. Hamka.
  4. Kami melakukan sedikit editan.
  5. Sultan Khairun.
  6. Utusan.
  7. Cara sumpah seperti ini tidak ditemukan dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Allahu a’lam.
  8. Sultan Khairun.
  9. Sampai di sini tulisan Prof. Dr. Hamka.

Posted on Januari 2, 2013, in sejarah and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Kristen agama penyebar kasih……?????????????????????????????????????????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: