TIDAK SEMUA LOMBA YANG BOLEH DIBERI HADIAH

hadiah mobillRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak boleh memberikan hadiah dalam perlombaan, kecuali lomba pacu unta, pacu kuda atau memanah.” (HR. Abu Dawud. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani)1.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Segala hal permainan adalah batil, kecuali permainan memanah, melatih kuda, bercanda dengan anak dan isteri, maka hal itu tidak termasuk hal yang batil.” (HR. Ahmad. Sanadnya dihasankan oleh Arnauth)2.

Imam Syafi’i berkata pada saat menjelaskan makna hadits: “’Tidak boleh memberikan hadiah dalam perlombaan, kecuali lomba pacu unta, pacu kuda atau memanah,” Hadits ini menunjukkan bahwa haram hukumnya memberikan hadiah untuk perlombaan selain yang disebutkan.” (Al Umm, jilid IV, hal 243)3.

Tetapi, sebagian ulama dalam mazhab Maliki membolehkan pemenang permainan ini4 menerima hadiah dari pihak ketiga. (Mawahibul Jalil, jilid III, hal 393)5.

Akan tetapi pendapat yang terkuat dalam hal ini adalah pendapat ulama seluruh mazhab yang mengharamkan pemberian hadiah kepada pemenang perlombaan yang mubah (boleh), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di atas6.

Ibnu Qayyim berkata, “Perlombaan dalam hal yang mubah (boleh) diharamkan pemenangnya menerima hadiah, bukan karena materi permainannya yang dilarang, akan tetapi andai menerima hadiah dari permainan tersebut dibolehkan maka akan menjadi sarana orang-orang untuk menyibukkan diri dengan permainan dan menjadikannya sebagai sebuah profesi.” (Al-Furusiyyah, halaman 309)7.

Perkataan ulama ini sangat tepat menggambarkan kondisi sekarang. Akibat dari dibolehkannya menerima hadiah dari perlombaan hal yang mubah maka para pemain sebuah cabang olahraga mendapat honor yang jauh lebih besar dibandingkan para ilmuwan di segala cabang keilmuwan dan orang-orang banyak yang bercita-cita untuk menjadi para pemain dibandingkan profesi lain yang jauh lebih bermanfaat8.

Disusun dari buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi.

Disusun oleh Abu Aslam.

(Artikel Muslim Sumbar)

Footnote:

  1. Buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, halaman 252.
  2. Buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, halaman 254.
  3. Buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, halaman 255.
  4. Permainan mubah (boleh).
  5. Buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, halaman 255.
  6. Buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, halaman 255.
  7. Buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, halaman 255.
  8. Buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, halaman 255-256.

Posted on Januari 7, 2013, in FIQIH and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: