Sekilas Tentang Sejarah Poligami

Menilik sejarahnya, poligami bukan sesuatu yang baru dalam kehidupan umat manusia. Sejak dahulu kala, umat manusia telah manjalani kehidupan rumah tangga dengan berpoligami. Bahkan di antara mereka adalah para Nabi dan Rasul yang mulia.

Cobalah ingat kembali sosok Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, bukankah beliau berpoligami?! Dari Sarah istri beliau yang pertama, lahir Nabi Ishaq ‘Alaihissalam yang menurunkan para Nabi dan Rasul di kalangan Bani Israil. Adapun dari Hajar istri beliau yang kedua, lahir pula Nabi Ismail ‘Alaihissalam yang menurunkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sepenggal kisah dari kehidupan mereka yang mulia telah diabadikan dalam beberapa surat dalam al-Qur’an.

Demikian pula Nabi Dawud ‘Alaihissalam dan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam serta sejumlah Nabi yang lain, mereka menjalani kehidupan rumah tangga dengan berpoligami. Ketika orang-orang mulia dari kalangan Nabi dan Rasul telah menjalaninya, berarti poligami itu tidaklah tercela. Kalaulah poligami itu tercela dan berefek negatif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala melarangnya.1

Para pembaca yang mulia, dari sejarah poligami di atas, dapat diambil pelajaran berharga bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bukanlah Rasul pertama yang menjalani kehidupan rumah tangga dengan berpoligami. Demikian pula agama Islam yang beliau bawa, bukan yang mengawali syariat poligami dalam ranah sosial kemasyarakatan. Bedanya, syariat poligami yang terdapat dalam agama Islam tertata, adil, dan jauh dari perbuatan zalim.

Pada zaman dahulu, jumlah istri dalam praktik poligami tidak dibatasi. Siapa saja boleh memperbanyak istri tanpa ada batasan tertentu. Setelah kedatangan Islam, jumlah itu dibatasi, maksimal empat orang istri saja.2

Wallahu a’lam.

Abu Aslam bin Syahmir

Keterangan:

  1. Perhatikanlah hal ini wahai Saudara-Saudariku! Semoga Allah merahmatimu.
  2. Dikutip dari tulisan Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi di majalah asy-Syariah Vol. VIII/No. 85/1433 H/2012 halaman 6. Catatan kaki adalah tambahan dari Abu Aslam.

Artikel lainnya:

Seorang Istri Tidak Bisa Memenuhi Semua Keinginan Suami

Seorang Wanita Menawarkan Dirinya Kepada Laki-Laki Shalih

Posted on Maret 7, 2013, in NASEHAT and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: