Dakwah Wahhabi di Ranah Minang; Sejarah Islam Minangkabau Indonesia (Bagian 1)

masjid sumbarMenurut perhitungan sejarah, pembaharuan faham Islam di Indonesia ini, dalam rangka kebangunan dunia Islam umumnya, dimulai pertama sekali di Minangkabau.

Yaitu dengan kembalinya tiga orang haji dari Mekkah; Haji Miskin orang Pandai Sikat1 Luhak Agam, Haji Sumanik orang Luhak Tanah Datar dan Haji Piobang orang Luhak Limapuluh. Mereka kembali dari Mekkah sekitar tahun 1803. Faham-faham dan ajaran agama yang terpengaruh oleh ajaran tuan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, yang lebih terkenal dengan sebutan “Wahhaabi”, inilah yang mereka sebarkan di Minangkabau, terutama oleh yang tertua diantara mereka, Haji Miskin. Maksud utama ialah membersihkan masyarakat dari pada adat-adat yang buruk pusaka jahiliyah, misalnya mengadu ayam, meminum tuak yang dicampur dengan darah kerbau, perang batu diantara suku dengan suku atau kampung dengan kampung, nagari dengan nagari.

Dan anjuran yang beliau-beliau bawa itu mendapat sambutan hangat oleh delapan orang Ulama terkemuka di Luhak Agam, yang dipelopori oleh Tuanku nan Renceh di kampung Bangsa, Kamang. Lalu disambut lagi oleh Ulama-ulama yang lain di seluruh Alam Minangkabau, sampai dapat dilaksanakan dalam sebuah Nagari dengan kesepakatan ahli agama dan ahli adat, sebagaimana yang terjadi dalam Nagari Bonjol, dibawah “Raja Nan Tiga Sela”, yaitu; 1) Tuanku Imam, 2) Datuk Bandaharo dan 3) Datuk Sati.

Gerakan2 pembaharuan itu telah berkembang di seluruh Alam Minangkabau sejak tahun 1803, sampai masuk penjajah Belanda pada tahun 1821 (yaitu setelah 18 tahun berkembang), dan baru ditaklukkan setelah pertahanan Bonjol dapat dihancurkan pada tahun 1837 (artinya setelah berperang 16 tahun) dan habis sama sekali setelah jatuhnya pertahanan Tuanku Tambusai, benteng Dalu-Dalu pada tahun 1838.

Catatan: Dikutip dari buku “Muhammadiyah di Minangkabau” karya Dr. Hamka, halaman 7, bagian Pendahuluan. Dengan sedikit perubahan.

(Bersambung, Insya Allah).

Abu Aslam bin Syahmir

(Padang, 15 Jumadal Ula 1434 H / 27 Maret 2013).

Footnote:

  1. Dahulu Pandai Sikat (Pandai Sikek) itu masuk Agam. Di dalam tambo-tambo lama Agam dan Batipuh bertali. Di zaman sekarang Pandai Sikat masuk Kabupaten Tanah Datar.
  2. Disebut juga dengan “gerakan Paderi.”

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Follow: Page Muslim Sumbar

Iklan

Posted on April 4, 2013, in sejarah and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. septio akbar rosier

    ana izin share sama copas yah akhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: