Nasehat Dalam Menepati Janji

janjiAllah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu….” (QS. Al-Ma’idah [5]: 1).

Imam Ibnu Katsir berkata:

قوله تعالى { أَوْفُوا بِالْعُقُودِ } قال ابن عباس ومجاهد وغير واحد: يعني بالعقود: العهود. وحكى ابن جرير الإجماع على ذلك

“Firman Allah ‘penuhilah akad-akad’, Ibnu Abbas, Mujahid, dan selain mereka menafsirkan: Yaitu janji-janji. Bahkan Imam Ibnu Jarir telah menegaskan adanya ijma’ akan hal tersebut.”1

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung-jawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 34).

Imam an-Nawawi berkata: “Para ulama telah sepakat bahwa siapa saja yang berjanji kepada seseorang dengan sesuatu yang tidak terlarang, maka sepantasnya dia memenuhi janjinya tersebut.”2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanda-tanda orang-orang munafiq ada tiga: (1)apabila bercerita dia berdusta, (2)apabila diberi amanat dia khianat, (3)apabila berjanji dia ingkar.” (HR. Al-Bukhari: 33 dan Muslim: 59).

Sulaiman bin Dawud berkata kepada anaknya:

“Wahai anakku, apabila engkau berjanji, maka janganlah engkau mengingkarinya, karena hal itu dapat merubah rasa cinta menjadi benci.”3

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata:

“Telah menceritakan kepadaku Harun bin Sufyan al-Mustamli, dia berkata: Aku pernah bertanya kepada bapakmu Ahmad bin Hanbal: ‘Bagaimana engkau bisa mengetahui seorang itu termasuk pendusta?’ Dia menjawab: ‘Dengan janji mereka.’”4

Catatan: Tulisan ini mengambil manfaat dari tulisan Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa (semoga Allah menjaganya) di Majalah al-Furqon Edisi 09 th. ke-8 1430/2009, halaman 46, 47, dan 49.

Tulisan ini di tulis di kota Padang, tanggal 6 Rajab 1434 H/16 Mei 2013.

Abu Aslam bin Syahmir

Footnote:

  1. Tafsir Ibnu Katsir: 3/7 ditahqiq Muhammad Sami Salamah. Lafazh Arab berasal dari Maktabah Syamilah.
  2. Al-Adzkar halaman 566 ditahqiq Amir Ali Yasin.
  3. Adabul Imla halaman 41, Ma’alim Fi Thoriq Tholab al-Ilmi halaman 163.
  4. Ma’alim Fi Thoriq Tholab al-Ilmi halaman 164.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Follow: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Posted on Mei 16, 2013, in AKHLAQ and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: