Ringkasan Sifat Wudhu’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

wudhu tangan1. Berniat.

Niat letaknya adalah di hati. Berniat melakukan wudhu’ dengan tujuan untuk mengangkat hadats kecil, dan niat ini tidak boleh dilafazhkan karena tidak ada dalil/dasarnya.

2. Bersiwak.

3. Membaca bismillah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak (sempurna) wudhu’ seseorang yang tidak menyebut nama Allah (membaca bismillah) padanya.”1

4. Mencuci kedua telapak tangan.

Disertai menyela jari jemari.

5. Berkumur-kumur, Intinsyaq, dan Istintsar.

Berkumur-kumur sekaligus memasukkan air ke dalam hidung dengan telapak tangan kanan dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Setiap kali berkumur-berkumur dan memasukkan air ke hidung hendaklah setelah itu menyemburkannya dengan tangan kiri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Bersangatanlah (lakukanlah dengan kuat) dalam intinsyaq, kecuali jika engkau sedang berpuasa,”2

6. Membasuh wajah.

7. Disunnahkan bagi laki-laki menyela-nyela jenggot dengan satu telapak tangan.

8. Membasuh tangan kanan sampai siku, demikian pula tangan kiri disertai menyela-nyela jari jemari.

9. Mengusap seluruh kepala sekali saja, yaitu dengan membasahi kedua telapak tangan, lalu dijalankan dari kening sampai ke tengkuk lalu dikembalikan lagi ke depan.

10. Kemudian mengusap kedua telinga.

11. Membasuh kaki kanan sampai mata kaki, demikian pula kaki kiri dengan menyela-nyela jari-jemari kaki.

12. Berdo’a setelah wudhu’.

Disusun oleh Abu Aslam Benny bin Syahmir.

Rujukan:

  1. Buku “Sifat Wudhu’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit Media Tarbiyah.
  2. Buku “Sifat Wudhu’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam” dimuraja’ah oleh Syaikh Abdullah bin Abdirrahman al-Jibrin, penerbit Pustaka Ibnu Umar.

Footnote:

  1. HR. Ahmad. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 81).
  2. HR. Abu Dawud. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 629).

Posted on Mei 25, 2013, in FIQIH and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. batalkah wudhu kita apabila tersentuh istri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: