Menyampaikan Pelajaran Dengan Jelas dan Perlahan (Sifat Pendidikan Nabi bagian 1)

ontaTermaktub di dalam sirah Rasul kita yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau tidak pernah tergesa-gesa dalam melafalkan kalimat.

Beliau memberi jeda intonasi pada setiap ucapnnya, dan semua itu dituturkan dengan jelas, sehingga dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya.

Hal itu disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya sebagai berikut.

A. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Berbicara secara Perlahan

Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Dalam ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam terdapat tartil atau (dan) tarsil.”1

Imam ath-Thibi menjelaskan: “Tartil dan tarsil artinya menuturkan secara perlahan dan melafalkan huruf serta harakatnya dengan jelas.”2

Al-Mulla ‘Ali al-Qari berkata: “Maksud hadits di atas adalah beliau tidak tergesa-gesa dalam menuturkan kalimat. Beliau memberi jeda dan melafalkan setiap kata secara jelas, baik dari sisi makhraj, sifat huruf, maupun harakatnya. Singkat kata, hadits ini menafikan sikap ketergesa-gesaan dan menetapkan sikap perlahan-lahan.”3

B. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Menyampaikan Sabdanya dengan Terstruktur

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Tutur kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jelas (terstruktur) dan dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya.”4

Maksudnya, setiap bagian perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dituturkan secara terpisah.5

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha: “Seandainya ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berbicara ada orang yang menghitung perkataanya, pastilah dia akan dapat melakukannya.”6

Ini menunjukkan bahwa penuturan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam itu sangat pelan dan jelas, serta membuat orang yang mendengarnya paham.7

Cara penuturan seperti ini tentu akan memudahkan murid untuk menguasai apa yang disampaikan oleh gurunya.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita berada di atas jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

Rujukan: Buku “Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Mendidik Generasi Idaman” karya Dr. Fadhl Ilahi terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’I halaman 103-105.

Abu Aslam bin Syahmir Marbawi

Footnote:

  1. Sunan Abi Dawud (dicetak bersama kitab ‘Aunul Ma’buud), Kitab al-Adab, Bab al-Hadyu fil Kalaam, no. hadits 4828 (XIII/126). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Shahiih Sunan Abi Dawud (III/917).
  2. Syarhuth Thibi (XII/3709).
  3. Mirqaatul Mafaatiih (X/87).
  4. Sunan Abi Dawud, Kitab al-Adab, Bab al-Hadyu fil Kalaam, no. hadits 4829 (XIII/126). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Shahiih Sunan Abi Dawud (III/198).
  5. Lihat ‘Aunul Ma’buud (XIII/126).
  6. Shahiihul Bukhari, Kitab al-Manaaqib, Bab Shifatun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, no. hadits 3567 (VI/567).
  7. Fat-hul Baari (VI/578).

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Follow: Page Muslim Sumbar

Artikel Terkait:

Problematika Anak: Mengalami Keterlambatan dan Kesulitan Memahami Pelajaran

Iklan

Posted on Juli 29, 2013, in Pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: