KETAQWAAN DAN KIAT MERAIHNYA

sujud TAKWA (1)Pengertian Taqwa

Takwa yang hakiki adalah hendaklah seorang hamba bersungguh-sungguh menjauhi seluruh dosa, yang besar maupun yang kecil serta bersungguh-sungguh melakukan seluruh bentuk ketaatan, baik yang wajib maupun yang sunnah semampunya dengan harapan semoga banyaknya ibadah sunnah yang dilakukan dapat menutupi kekurangan yang ada pada saat melakukan kewajiban, dan menjauhi dosa-dosa kecil sebagai benteng yang kuat antara seorang hamba dengan dosa-dosa besar.1

Al-Hafizh Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Termasuk taqwa yang sempurna adalah melaksanakan seluruh kewajiban dan meninggalkan segala bentuk keharaman dan syubhat lalu disertai dengan melaksanakan amalan sunnah dan meninggalkan yang makruh. Itulah derajat taqwa yang sempurna.”2

Perintah Taqwa

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang telah diberi kitab suci sebelum kamu dan juga kepadamu agar bertaqwa kepada Allah.” (QS. An-Nisaa’: 131).

Allah Ta’ala memerintahkan umat-umat terdahulu maupun yang datang kemudian agar bertakwa kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah Allah itu ditaati dan tidak dimaksiati diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak diingkari.”3

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzaab: 70).

Allah Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 231).

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Wasiat Allah Ta’ala agar hamba-Nya menyiapkan bekal, sedang bekal yang paling baik adalah takwa kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Dan bertaqwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Sungguh, di antara kehormatan seseorang adalah bagusnya bekal yang ia bawa dalam perjalanan.”4

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Bertaqwalah kepada Allah, Rabb kalian! Kerjakanlah shalat lima waktu kalian, kerjakanlah puasa di bulan kalian, tunaikanlah zakat harta-harta kalian, dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk surga Rabb kalian.”5

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu menghapuskan perbuatan buruk tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”6

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.”7

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Aku berwasiat kepadamu agar bertaqwa kepada Allah karena ia adalah pokok (inti) segala sesuatu.”8

Kiat-Kiat Meraih Ketaqwaan

1. Menuntut Ilmu / Mempelajari Agama

Ilmu syar’i adalah sebab terbesar untuk meniti jalan menuju taqwa kepada Allah Ta’ala. Sebab dengan ilmu syar’i sajalah seorang hamba mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, serta dapat selalu menahan diri dari hal-hal yang diharamkan dan berusaha untuk selalu mengerjakan perintah Allah.

Tidak mungkin seseorang dapat bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla tanpa menuntut ilmu agama. Oleh karena itu, wajib bagi kita semua untuk belajar ilmu syar’i. Setiap muslim dan muslimah wajib menyisihkan waktu yang dikaruniakan Allah untuk menuntut ilmu syar’i.

Waktu yang dikaruniakan oleh Allah Ta’ala selama 24 jam akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Ta’ala. Sudahkah kita manfaatkan nikmat waktu ini? Sudahkah kita manfaatkan untuk menuntut ilmu syar’i? Sudahkah kita manfaatkan untuk bertaqwa kepada Allah?

Manfaatkanlah waktu Anda untuk mempelajari Islam. Hadirilah majelis taklim yang mengajarkan ilmu syar’i, bacalah al-Qur’an setiap hari, baca juga terjemah dan tafsirnya, bacalah buku-buku Islam yang bermanfaat, dan media-media lainnya yang membuat kita lebih faham tentang Islam, sehingga dapat bertambah iman dan kita dapat beramal shalih sehingga Allah memudahkan kita untuk bertaqwa kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah: 11).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”9

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa saja yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan menjadikannya faham tentang agamanya.”10

2. Mentauhidkan Allah dan Menjauhi Kesyirikan

Tanpa tauhid, seseorang tidaklah mungkin mencapai derajat taqwa kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kaum muslimin wajib bersungguh-sungguh untuk merealisasikan tauhid.

Allah Ta’ala mengutus seluruh para Nabi dan Rasul untuk mewujudkan tauhid.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiyaa’: 25).

Orang yang melakukan kesyirikan akan mendapat ancaman dari Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya siapa saja yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu.” (QS. Al-Maa’idah: 72).

Bahkan, kesyirikan dapat menghapuskan pahala seluruh amal kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’aam: 88).

Hendaklah kita selalu mentauhidkan Allah, beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Di antara bentuk kesyirikan yang wajib kita jauhi adalah; berdo’a kepada selain Allah,11 seperti berdo’a kepada kuburan, berdo’a kepada orang shalih, berdo’a kepada Nabi, berdo’a kepada malaikat, berdo’a kepada hewan, berdo’a kepada kerbau, berdo’a kepada sapi dan lain sebagainya, ini semua merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah Ta’ala.

Bentuk kesyirikan lainnya adalah berdo’a dan meminta pertolongan kepada jin sebagaimana yang dilakukan oleh tukang sihir dan dukun, memakai jimat dan lain sebagainya.

3. Melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan siapa saja yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzaab: 71).

Kita harus mengetahui bahwa seluruh perintah Allah Ta’ala membawa kebaikan (maslahat) bagi para hamba-Nya. Tidak ada perintah Allah yang sia-sia, semua perintah Allah dan Rasul-Nya pasti membawa manfaat bagi hati, akal, panca indera, rumah tangga, maupun dunia dan akhirat kita.

Perintah Allah untuk bertauhid, bertaqwa, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, melaksanakan haji, berbuat baik kepada orang tua, menyambung silaturrahim, dan semua perintah-Nya akan membawa kebaikan dan manfaat kepada kita.

Dan ketahuilah juga bahwa seluruh larangan Allah membawa keburukan (mudharat) bagi para hamba-Nya. Semua larangan Allah dan Rasul-Nya pasti membawa keburukan dan bahaya bagi diri, hati, akal, panca indera, rumah tangga, maupun dunia dan akhirat kita.

Allah melarang hamba-Nya berbuat syirik, sebab kesyirikan itu berbahaya dan membawa keburukan, serta akan disiksa (diadzab) oleh Allah di dunia maupun di akhirat.

Allah melarang hamba-Nya berbuat bid’ah dan maksiat karena akan membuat sengsara hidupnya, gelap hatinya, akan diadzab oleh Allah dan tidak mendapatkan rahmat.

Demikian juga Allah melarang hamba-Nya melakukan perbuatan dosa seperti meninggalkan shalat, durhaka kepada kedua orang tua, zina, riba, membunuh, mencuri, memutuskan silaturrahim, memfitnah, berjudi, meminum khamr, atau yang lainnya sebab perbuatan-perbuatan tersebut berbahaya bagi hamba-Nya.

Oleh karena itu, kita wajib bertaqwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Sebab seluruh perintah Allah adalah bermanfaat dan seluruh yang dilarang Allah adalah berbahaya.

Allahu a’lam.
-Selesai-

Disusun oleh Abu Aslam Benny Mahaputra A.

Rujukan:

  1. Buku “Takwa Jalan Menuju Sukses Abadi” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
  2. Buku “Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
  3. Buku “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Footnote:

  1. Lihat at-Taqwa Ghaayatul Mansyuudah (halaman 15).
  2. Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam (I/399).
  3. Atsar shahih, diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (no. 8502) dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya (II/87).
  4. Tafsiir Ibni Katsir (I/552).
  5. Shahih, HR. Ahmad (V/251, 262), at-Tirmidzi (no. 616) Ibnu Hibban (no. 795/Mawaaridhuzh Zham-aan) dan al-Hakim (I/9, 389). Dishahihkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan adz-Dzahabi. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah (no. 867).
  6. Hasan, HR. Ahmad (V/153, 158, 177) At-Tirmidzi (no. 1987). Hadits ini dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi, an-Nawawi dalam al-Arba’in dan Riyaadhush Shaalihin, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 97.
  7. Hasan, HR. Ahmad (II/291, 392, 442), at-Tirmidzi (no. 2004), dan al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 289).
  8. Hasan, HR. Ahmad (III/82). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 555).
  9. Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 224). Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3913).
  10. Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 71, 3116, 7312).
  11. Do’a adalah salah satu bentuk ibadah. Oleh sebab itu, berdo’a dan meminta pertolongan hanyalah kepada Allah, tidak boleh kepada selain Allah.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Follow: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Posted on Agustus 11, 2013, in AQIDAH and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: