Wanita Tidak Boleh Jadi Pemimpin

senjata bagusPara ulama telah sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin,1 karena jenis kelamin laki-laki adalah syarat untuk memegang jabatan ini.2

Allah Ta’ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisaa’ [4]: 34).3

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لن يفلح قوم ولّوا أمرهم امرأة

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”4

Imam al-Baghawi Rahimahullah berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin karena seorang pemimpin butuh untuk keluar seperti ketika akan mengkomandoi jihad, mengurusi urusan kaum muslimin, sedangkan wanita adalah aurat, tidak boleh keluar.

Dan wanita sendiri lemah dalam mengurusi segala kepentingan. Oleh karena wanita itu akalnya kurang, sedangkan kepemimpinan adalah kekuasaan yang paling sempurna, maka tidak pantas dipegang kecuali oleh laki-laki yang sempurna.”5

Imam al-Juwaini berkata, “Para wanita hendaknya tinggal di dalam rumah mereka, menyerahkan segenap urusan mereka kepada kaum laki-laki yang merupakan pemimpin bagi kaum wanita. Para wanita tidak terbiasa untuk mengatasi berbagai keadaan, janganlah mereka keluar dan tampil berdesakan dengan laki-laki. Para wanita akalnya kurang dalam menetapkan perkara dan pendapat yang dibutuhkan.6

Andaikan seorang wanita ikut-ikutan sibuk bekerja seperti laki-laki padahal dirinya akan mengalami haid, hamil, melahirkan, dan punya kewajiban mendidik anak, sungguh wanita ini telah keluar dari tabiat aslinya. Dengan bergaul dan berbaur dengan laki-laki akan rusak dan hancurlah aturan rumah tangga dan akan terlepaslah ikatannya.7

Anda ingin beruntung?

Jangan jadikan wanita sebagai pemimpin!!!

Sungguh merugi suatu kaum yang dipimpin oleh wanita.

Rujukan: Tulisan Ustadz Abu Anisah bin Luqman al-Atsari (Hafizhahullah) di majalah al-Furqon edisi 9 th. ke-8 1430/2009, halaman 59.

Selesai di kota Padang, Sumatera Barat.

25 Syawwal 1434 / 1 September 2013.

Abu Aslam bin Syahmir

Footnote:

  1. Hasyiyah Ibnu Abidin; 2/280, Al-Mughni; 2/2509, Adhwaul Bayan; 1/26.
  2. Ma’atsir al-Inafah Fi Ma’alim al-Khilafah; 1/31-39, al-Qolqosyandi.
  3. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Yaitu laki-laki adalah pemimpin wanita, maka hendaknya wanita taat kepadanya dalam perkara yang ia perintahkan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/293).
  4. HR. Al-Bukhari: 4425.
  5. Syarhus Sunnah: 10/77.
  6. Ghiyatsul Umam halaman 64.
  7. Lihat al-Harakat an-Nisa’iyyah karya Muhammad Atiyyah Khumais halaman 56, at-Ta’amul al-Masyru’ halaman 301.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Follow: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Artikel lainnya:

Menasehati Pemerintah dengan Cara yang Baik, Tidak Mengadakan Provokasi dan Penghasutan

Rakyat Meniru Penguasa

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Tentang Pemerintahan Yang Bodoh

Posted on September 1, 2013, in NASEHAT and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: