Posisi Dalam Berhubungan Intim

Kamar-Ke-2Allah Ta’ala berfirman:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223).

Ketika orang-orang Muhajirin tiba di Madinah dan tinggal bersama orang-orang Anshar, sebagian mereka menikahi sebagian wanita Anshar. Sementara orang-orang Muhajirin sudah terbiasa melakukan hubungan intim dengan posisi tajbiyah1 terhadap istri-istri mereka, wanita Anshar tidak terbiasa melakukan hubungan intim dengan gaya seperti itu. Spontan saja, seorang wanita Anshar menolak ketika suaminya mengajaknya melakukan gaya tersebut.

Tidak cukup demikian, bahkan wanita tadi berniat mengadukan persoalan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun tatkala wanita tadi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ia malu untuk menanyakannya. Ummu Salamah yang membantu wanita tersebut untuk menyampaikan pertanyaannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Setelah itu turunlah ayat:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223).2

Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Boleh saja ia melakukan hal itu selama tertuju hanya pada satu lubang, yaitu kemaluan.”3

Umar bin Khattab –semoga Allah meridhainya- juga pernah menegaskan hal serupa, dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i yang artinya:

“Lakukanlah hubungan seks itu dari arah depan, belakang, dengan menelentang ataupun menelungkup. Tapi hindari dubur dan juga kemaluan wanita di saat haid.”

Berkaitan dengan penjelesan ayat dan riwayat di atas, Imam an-Nawawi menerangkan:

“Ayat tersebut menunjukkan diperbolehkannya menyetubuhi wanita dari bagian depan, atau dari arah belakang, dengan cara menindihnya melalui sepasang tangannya, atau bertelungkup. Adapun melalui dubur / anus, tidak diperbolehkan, karena itu bukan lokasi ‘bercocok tanam’.”4

Muhammad Syamsul Haqqil ‘Azhim Abadi menjelaskan, “Kata ladang (hartsun) yang disebut dalam al-Qur’an menunjukkan bahwa wanita itu boleh digauli dengan cara apapun, dengan cara berdiri, duduk, berbaring, menghadap atau membelakang…”5

Allahu a’lam.

Rujukan : Buku Sutra Ungu karya al-Ustadz Abu Umar Basyir.

Abu Aslam bin Syahmir

Footnote:

  1. Posisi di mana sang suami melakukan penetrasi dari arah belakang.
  2. Tafsir Al-Qur’an al-Azhim oleh Ibnu Katsir (I : 263).
  3. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Kubra (VII : 195).
  4. Lihat Syarah an-Nawawi terhadap Shahih Muslim (X : 6).
  5. Lihat ‘Aunul Ma’bud (VI : 127).

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Posted on Desember 17, 2013, in FIQIH and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: