Berbicara Tentang Manfaat Hubungan Intim

kamar cintaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

وفي بُضع أحدكم صدقة

“Salah seorang dari kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.”1

Imam an-Nawawi berkata, “Jima’ (bersetubuh) bisa menjadi ibadah apabila ia niatkan untuk memenuhi hak istrinya, bergaul dengan cara  yang baik yang diperintahkan Allah atau untuk menjaga dirinya dan istrinya agar tidak terjatuh kepada perbuatan haram, atau memikirkan (mengkhayal) hal yang haram, atau berkeinginan untuk itu, atau yang lainnya.”2

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Wanita yang memenuhi kriteria untuk dicintai oleh seseorang akan sedikit sekali kemungkinannya memperlemah tubuh, karena berhubungan intim dengannya dapat menyebabkan banyak sekali keluarnya sperma yang harus dibuang dari dalam tubuh.”3

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Adapun dalam soal hubungan badan atau jima’, petunjuk Nabi adalah yang paling sempurna dalam konteks untuk menjaga kesehatan, mendapatkan kenikmatan optimal dan kebahagiaan hati sehingga sasaran yang menjadi target hubungan intim dapat tercapai. Pada dasarnya hubungan badan itu diciptakan untuk tiga tujuan:

  1. Untuk memelihara keturunan dan keberlangsungan manusia.
  2. Mengeluarkan air (mani), yang bila tetap mendekam dalam tubuh akan berbahaya bagi tubuh sendiri.
  3. Memenuhi hasrat, meraih kenikmatan, dan menikmati karunia Allah.

Kalangan medis terkemuka menandaskan, ‘Sesungguhnya hubungan intim itu termasuk faktor paling utama dalam menjaga kesehatan.’

Di antara manfaat bersetubuh adalah menjaga pandangan mata, mengekang hawa nafsu, mampu menjaga kesucian diri agar tidak berbuat haram. Itu juga berlaku bagi wanita. Bersetubuh berguna bagi pria dan wanita di dunia dan di akhirat.”4

Ibnul Jauzi mengatakan, “Menikahi wanita yang dicinta bisa menyalurkan air mani yang terkumpul, sehingga akan menghasilkan diperolehnya anak yang cerdik, dan sekaligus terpenuhinya kebutuhan biologis dengan sempurna.”5

Muhammad bin Zakaria menandaskan, “Siapa saja yang tidak bersetubuh dalam waktu lama, kekuatan organ-organ tubuhnya akan melemah, sarafnya akan menegang dan pembuluh darahnya akan tersumbat, selain itu penisnya juga akan mengkerut.”6

Beliau melanjutkan, “Saya melihat sendiri banyak kalangan yang sengaja tidak melakukan hubungan seks dengan niat membujang, maka tubuh mereka menjadi dingin, gerak-gerik mereka menjadi kaku dan mereka menjadi sering muram tanpa sebab. Nafsu makan mereka menjadi berkurang, demikian juga pencernaan mereka menjadi rusak.”7

Meninggalkan jima’ adalah kebiasaan yang tidak wajar, amat mengganggu tubuh, menyebabkan tubuh menjadi lemah dan lumpuh, bahkan juga bisa mengakibatkan penyakit kejiwaan.8

Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir

Rujukan:

  1. Sutra Ungu, karya Ustadz Abu Umar Basyier.
  2. Syarah Arba’in an-Nawawi, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
  3. Shaidul Khathir, karya Ibnul Jauzi (Darul Haq).

Footnote:

  1. HR. Muslim (no. 1006). Hadits Arba’in no. 25.
  2. (Syarh Shahih Muslim [VII/92]). Syarah Arba’in an-Nawawi halaman 500.
  3. Ath-Thibbun Nabawi hal. 198. Sutra Ungu halaman 24.
  4. Ath-Thibbun Nabawi hal. 194. Sutra Ungu halaman 54-55.
  5. Shaidul Khathir (Darul Haq) halaman 22.
  6. Sutra Ungu halaman 56.
  7. Sutra Ungu halaman 56.
  8. Sutra Ungu halaman 56.

—–

Link terkait : Posisi Dalam Berhubungan Intim

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Posted on Desember 27, 2013, in FIQIH and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: