Laki-Laki Boleh Kencing Berdiri

kamar mandiUlama berbeda pendapat tentang hukum buang air kecil sambil berdiri dalam tiga pendapat berikut ini:

Pertama, dimakruhkan bila dilakukan tanpa udzur. Ini adalah pendapat Aisyah, Ibnu Mas’ud, Umar dalam salah satu riwayatnya, Abu Musa, asy-Sya’bi, Ibnu Uyainah, Hanafiyah dan Syafi’iyah.

Kedua, dibolehkan secara mutlak. Ini adalah pendapat Umar –dalam riwayat lain-, Ali, Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar, Sahl bin Sa’d, Anas, Abu Hurairah, Hudzaifah, dan merupakan pendapat Hanabilah.

Ketiga, dibolehkan, apabila dilakukan di tempat yang lembek sehingga tidak memercikkan air seni, dan tidak dibolehkan, bila tempatnya keras. Ini adalah madzhab Malik, dan dirajihkan oleh Ibnu Mundzir.

Pendapat yang kuat adalah tidak dimakruhkan buang air kecil dengan berdiri, selama aman dari percikan air seninya, berdasarkan alasan-alasan berikut ini:

1. Tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang melarang kencing sambil berdiri.

2. Adapun riwayat yang menyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam buang air kecil sambil duduk, tidak menafikan bolehnya buang air kecil sambil berdiri, bahkan menunjukkan bolehnya kedua cara tersebut.

3. Telah diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau pernah buang air kecil sambil berdiri.

Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata,

رَأَيْتُنِي أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَمَاشَى فَأَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ خَلْفَ حَائِطٍ فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ فَبَالَ فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُهُ فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ

Aku melihat diriku dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedang berjalan-jalan lalu beliau mendatangi tempat sampah sebuah kaum di belakang tembok. Kemudian beliau berdiri sebagaimana seorang di antara kamu berdiri, lalu beliau kencing sambil berdiri. Aku menjauh dari beliau, tetapi beliau memberi isyarat kepadaku. Aku mendatangi beliau dan berdiri di belakangnya hingga beliau selesai dari kencingnya. (HR al-Bukhari)[1]

4. Adapun penafian dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah buang air kecil sambil berdiri, adalah berdasarkan pengetahuannya akan perbuatan beliau di rumahnya. Hal ini tidaklah menafikan, di luar rumah beliau pernah buang air kecil sambil berdiri. Tidak diragukan lagi bahwa tidak mengetahui sesuatu bukanlah berarti sesuatu itu tidak ada. Orang yang mengetahuinya –seperti Hudzaifah dan selainnya- adalah hujjah bagi orang yang tidak mengetahuinya, dan orang yang menetapkan harus didahulukan daripada orang yang menafikan.

Wallahu a’lam.

Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir

Footnote:

1. Hadits Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari [226].

Rujukan:

1. Kitab Shahih Fiqih Sunnah Jilid 1, karya Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Pustaka at-Tazkia.

2. Shahih al-Bukhari.

3. Fathul Bari.

4. Maktabah Syamilah.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Posted on April 2, 2014, in ADAB and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: