Untukmu, Ku Tulis Tentang Cinta

52Saudara-Saudariku, pada kesempatan ini, kita akan berbicara tentang cinta. Yaitu pembicaraan tentang cinta dari sudut pandang golongan manusia yang menyukai cinta dan memujinya.

Muhammad bin Sirin pernah melantunkan Syair,

Jika langkah kakiku berayun tak terarahkan

Kupanggil Lubna seindah nama panggilannya

Aku berharap andaikan jiwa ini mau menuruti

Kan ku bawa jiwaku ke sampingnya.

Menurut golongan ini, cinta itu bisa mensucikan akal, menghilangkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian yang rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, menjaga adab dan kepribadian.

Sebagian ahli balaghah mensifati cinta sebagai berikut: Ia mendorong penakut menjadi pemberani, orang kikir menjadi dermawan, mencuci pikiran orang yang dungu, memfasihkan lidah orang yang gagap, membangkitkan keinginan orang yang lemah, menampakkan kehebatan para pemberani, gejolak menjadi tenang, akhlak dan kepribadian menjadi tertata, ada kegembiraan yang menari-nari di dalam jiwa dan kesenangan yang bersemayam di dalam hati.

Seseorang melaporkan kepada seorang pemimpin, “Putramu telah menjalin cinta dengan seorang wanita!”

Pemimpin itu menyahut, “Allhamdulillah. Sekarang perasaannya menjadi halus, sanubarinya menjadi lembut, isyaratnya menjadi tajam, gerakannya menjadi tertata, ungkapan kata-katanya menjadi indah, surat yang ditulisnya menjadi bagus, terbiasa dengan hal-hal yang manis dan menjauhi hal-hal yang buruk.”

Seseorang pernah ditanya, “Kapankah seorang anak menjadi baligh?’

Dia menjawab, “Jika dia sudah berani menulis surat, melukiskan cinta dan menggambarkan sang kekasih.”

Ali bin Abdah berkata, “Tak mungkin seseorang bisa menghindar dari cinta, kecuali orang yang kasar perangainya, kurang waras atau tidak mempunyai gairah.”

Dari ‘Amr bin bin al-‘Ash –Radhiyallahu ‘anhu-, ia menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengutusnya bersama pasukan (dalam perang Dzatus Salasil).

‘Amr bertutur, “Aku datang menemui beliau, lalu bertanya, ‘Siapakah orang yang paling engkau cintai?’ Beliau menjawab ‘’Aisyah.’ Aku bertanya lagi, ‘Yang dari kaum laki-laki?’ Beliau menjawab, ‘Ayahnya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘’Umar bin al-Khaththab.’ Setelah itu, dia menyebut nama beberapa orang lagi.”1

Rujukan:

  1. Buku “Taman Orang-Orang Jatuh Cinta Dan Memendam Rindu” karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah.
  2. Buku “Inilah Faktanya” karya Dr. ‘Utsman bin Muhammad al-Khamis.

Abu Aslam bin Syahmir

Footnote:

  1. Muttafaq ‘alaihi. HR. Al-Bukhari (no. 3662) Muslim (no. 2384).

Lainnya:

Zina Mengepung Kita, Bertakwalah Kepada Allah! 

Betapa Mulianya Akhlak Teladan Kita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Posted on Mei 16, 2014, in cinta and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: