Kecemburuan Istri

cemburuDiriwayatkan dari al-Bukhari dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Aku tidak cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana aku cemburu kepada Khadijah, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sering menyebut namanya dan memujinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah diberi wahyu agar member kabar gembira kepada Khadijah, berupa sebuah rumah untuknya di Surga yang terbuat dari emas dan perak.”1

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berada di rumah salah seorang istrinya (dalam sebuah riwayat: ‘Aisyah). Lalu salah seorang dari Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi) datang kepada beliau dengan membawa sepiring makanan. Kemudian sang istri yang beliau berada di dalam rumahnya memukul tangan pelayan, sehingga piring itu jatuh dan pecah. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengumpulkan pecahan piring kemudian mengumpulkan makanan yang sebelumnya berada di piring tersebut, seraya berkata, ‘Ibu kalian cemburu, Ibu kalian cemburu.’ Kemudian beliau menahan pelayan itu, sehingga membawa sebuah piring milik sang istri yang mana beliau berada di dalam rumahnya. Kemudian beliau memberikan piring tersebut kepada sang istri yang piringnya dipecahkan, dan menahan piring yang dipecahkan di rumah (tempat) piring itu pecah.”2

Ibnu Hajar berkata dalam al-Fath: “Kecemburuan pada dasarnya adalah sifat bawaan wanita, namun jika keterlaluan dan berlebihan dalam hal itu, maka dia menjadi tercela.”3

Faedah dari buku “Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z” karya Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq.

Abu Aslam Benny Mahaputra A

Footnote:

  1. HR. Al-Bukhari (no. 3817) kitab al-Manaaqib, Muslim (no. 2435) kitab Fadhaailush Shahaabah, at-Tirmidzi (no. 3875) kitab al-Manaaqib, Ibnu Majah (1998) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 23789).
  2. HR. Al-Bukhari (no. 5225) kitab an-Nikaah, at-Tirmidzi (no. 1359) kitab al-Ahkaam, an-Nasa’i (no. 3955) kita ‘Isyratun Nisaa’, Abu Dawud (no. 3567) kitab al-Buyuu’, Ibnu Majah (no. 2334) kitab al-Ahkaam, Ahmad (no. 11616), ad-Darimi (no. 2598) kitab al-Buyuu’.
  3. Al-Fath (IX/237).

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Posted on Juni 7, 2014, in cinta and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: