Membangun Kemandirian Umat

mandiriSalah satu pekerjaan besar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam setibanya di kota Madinah, ialah mewujudkan kemandirian dalam banyak hal.

Berbekalkan pengalaman dakwah beliau di kota Makkah selama kurang lebih 13 tahun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam banyak mendapatkan pelajaran berharga. Diantara hal yang benar-benar menjadi pelajaran penting bagi beliau adalah pengalaman pahit diboikot oleh seluruh penduduk Makkah.

Selama tiga tahun, kabilah Quraisy yang bersekutu dengan bani Kinanah memboikot Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta bani Hasyim dan bani al-Muththalib. Mereka sepakat untuk tidak menerima pernikahan seluruh karib kerabat Nabi dari bani Hasyim dan bani al-Muththalib, dan tidak pula melakukan transaksi apapun hingga bani Hasyim menyerahkan Nabi kepada mereka.

Akibat pemboikotan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan juga seluruh kaum muslimin merasakan betapa beratnya beban hidup mereka.

Pada kisah ini, orang-orang Quraisy menggunakan kekuatan sosial dan ekonominya untuk melakukan tekanan kepada dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.Pengalaman pahit ini benar-benar menjadi pelajaran penting baginya, karena itu setiba beliau di kota Madinah, beliau segera mengupayakan kemandirian umat.

Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa pada awal kedatangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ke kota Madinah, penduduk Madinah hanya memiliki satu sumber mata air, yaitu sumur ar-Rumah. Dan ternyata sumur ini dimiliki oleh seorang yang menganut agama Yahudi.

Kondisi semacam ini tentu sangat tidak menguntungkan, dan bahkan sangat mungkin suatu saat nanti digunakan oleh musuh untuk melakukan tekanan kepada umat Islam. Karena itu segera Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berupaya memudarkan peluang ancaman ini dengan memotivasi sahabatnya untuk membeli sumber air minum ini.

Beliau mengobarkan jiwa pengorbanan para sahabat dengan bersabda: “Siapakah dari kalian yang dapat membeli sumur ar-Rumah, lalu mewakafkannya, sehingga hak dirinya sama dengan hak seluruh umat Islam lainnya? Sebagai imbalannya ia mendapatkan sumber mata air serupa di surga.” Tanpa berpikir panjang Utsman bin Affan segera membeli sumur itu dan mewakafkannya untuk kepentingan seluruh umat Islam. (Riwayat Imam Bukhari).

Sejak Utsman bin Affan mewakafkan sumur itu, maka umat Islam memiliki kemandirian dalam hal sumber air bersih. Dan sejak itu pula umat Islam terbebas dari kekhawatiran atau ancaman pihak lain, sehingga umat Islam bebas menentukan sikap dan arah hidupnya.

Selesai.

Faedah dari buku “Dari Bangsawan (Bangsa Karyawan) Menjadi Jutawan” karya Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, MA (hafizhahullah).

Abu Aslam Benny Mahaputra A

Kota Padang, 24 Sya’ban 1435 / 22 Juni 2013.

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

 

Posted on Juni 22, 2014, in motivasi, NASEHAT and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: