Kisah Cinta : Muhammad dan Hafshah

ungkapan cintaDari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma ia menceritakan: Bahwasanya Umar bin Khaththab ketika (anak perempuannya yang bernama) Hafshah binti Umar telah menjadi janda dari (suaminya yang bernama) Khunais bin Hudzafah as-Sahmiy dan dia adalah temasuk dari sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang wafat di Madinah.

Maka berkata Umar bin Khaththab:

“Aku mendatangi Utsman bin Affan, lalu aku menawarkan kepadanya untuk menikahi Hafshah, maka dia menjawab: ‘Saya pikirkan dulu.’ Maka aku pun menunggu (keputusannya) selama beberapa malam.

Kemudian dia menjumpaiku maka dia berkata: ‘Sesunggunya telah jelas bagi saya, bahwasanya saya pada saat ini belum mau menikah dulu.’”

Umar berkata:

“Kemudian aku menjumpai Abu Bakar ash-Shiddiq maka aku katakan (kepadanya): ‘Kalau engkau mau, maka aku akan menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar.’ Maka Abu Bakar diam, dia tidak menjawab sedikitpun juga kepadaku. Maka kemarahanku kepada Abu Bakar lebih dari kemarahanku kepada Utsman.”

Maka aku pun menunggu selama beberapa malam. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam meminang Hafshah (kepadaku), maka aku pun menikahkan Hafshah kepada beliau. Kemudian Abu Bakar menjumpaiku lalu dia berkata (kepadaku): ‘Barangkali engkau marah kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah kepadaku (agar aku menikahinya) dan aku tidak memberikan jawaban kepadamu sedikitpun juga?’”

Berkata Umar: “Aku menjawabnya: ‘Ya (betul).’”

Abu Bakar menjelaskan:

“Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab (yakni menerima) apa yang engkau tawarkan kepadaku, kecuali sesungguhnya aku telah mengetahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menyebut Hafshah, maka aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan kalau sekiranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menikahinya, maka aku akan menerimanya.”

(Hadits Shahih. Telah dikeluarkan oleh al-Bukhari [no. 4005 dan 5122] dan Nasaa-i [no. 3248 dan 3259] dan yang selain keduanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Utsman, sedangkan Utsman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshah.”1

Maka Madinah mendapat barakah dengan indahnya pernikahan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan Hafshah binti Umar pada bulan Sya’ban tahun ketiga hijriyah. Begitu pula barakah dari pernikahan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum binti Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada bulan Jumadil Akhir tahun ketiga hijriyah.

Begitulah, Hafshah bergabung dengan istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan ummahatul mukminin yang suci. Di dalam rumah tangga nubuwwah bersama Saudah dan Aisyah. Beliau senantiasa mendekati dan mengalah dengan Aisyah mengikuti pesan bapaknya (Umar) yang berkata, “Betapa kerdilnya engkau bila dibanding dengan Aisyah dan betapa kerdilnya ayahmu ini apabila dibandingkan dengan ayahnya.”

Jibril ‘Alaihis Salam pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Hafshah adalah seorang wanita yang rajin puasa, rajin shalat dan dia adalah istrimu di surga.”2

Pelajaran yang bisa kita ambil dari uraian di atas:

  1. Bolehnya seseorang menawarkan anak perempuannya atau saudara perempuannya kepada laki-laki shalih, walaupun laki-laki shalih tersebut sudah memiliki istri.
  2. Bolehnya laki-laki menikahi lebih dari satu istri.
  3. Hendaknya pandai menjaga rahasia sahabat dekat.
  4. Keutamaan Hafshah binti Umar.

Selesai di kota penuh cinta, kota Padang, Sumatera Barat, Ranah Minang.

21 Ramadhan 1435 H / 19 Juli 2014.

Abu Aslam Benny Mahaputra A

Rujukan:

  1. Kitab al-Masaa’il jilid 7 karya al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, diterbitkan oleh Darus Sunnah Press.
  2. Kitab Mereka adalah Para Shahabiyat karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi, diterbitkan oleh at-Tibyan.

Footnote:

  1. HR. al-Bukhari dalam kitab an-Nikah pada bab: Seseorang Menawarkan Putrinya atau Saudarinya Kepada Laki-Laki yang Baik (VI/130), an-Nasa’i dalam an-Nikah pada bab: Menikahkan Putrinya yang Telah Dewasa (VI/83).
  2. Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam an-Nikah pada bab: Ruju’, no. 2283. Ibnu Majah no. 2016. An-Nasa’i dalam ath-Thalaq (VI/212).

—–

ArtikelMuslim Sumbar

Like: Page Muslim Sumbar, Page Abu Aslam

Bersihkan Sumatera Barat Dari Syi’ah

Iklan

Posted on Juli 19, 2014, in cinta, SIRAH and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: